Disinilah aku, duduk sendiri memandang keluar jendela .. menatap beberapa anak yang asik bercengkrama. Melihat mereka tertawa aku jadi ingat masa-masa kecilku yang tak pernah mengenal keceriaan.
Namaku Aii , lengkapnya Haiira Putri Amanda. Umurku memasuki angka 17. Aku bersekolah di salah satu SMA negeri . Aku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara, kakak pertamaku laki-laki namanya Bima Putra Satya.. umurnya sudah 21 tahun. Dan yang ke2 perempuan namanya Alia Putri Nabila, umurnya 19 tahun.
Masih ingat dengan kata-kata ku di awal tadi. ..
Masa-masa kecil ku memang tak layak diingat, saat itu adalah saat-saat terburuk dalam hidupku , yang selalu membekas di relung hati ku. Umurku 5 tahun kala itu, aku lahir normal .. sama seperti anak anak pada umumnya, hanya saja .. ada sesuatu dalam kehidupanku yang berbeda. “IBU” itulah hal yang berbeda dalam kehidupanku. Sejak aku kecil, aku sudah ditinggalkan ibuku, bukan karena meninggal, kata ayahku ibu pergi dan tak akan pernah kembali. Aku beruntung masih dapat bertemu ibu, walau saat itu aku masih sangat kecil .
Ibu adalah sosok perempuan yang sabar menghadapi kesulitan ekonomi dalam keluarga kami. Ayah juga, seorang pria yang bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya, kami bukan keluarga kecil, tapi ayah dan ibu selalu berusaha agar kami ber3 selalu bisa bersekolah. Begitu juga dengan aku. Aku adalah anak periang yang sangat suka bermain dan bergaul , tidak jauh berbeda dengan kakak-kakak ku. Ibu bilang sikap kami adalah turunan darinya.
Keluarga kami adalah keluarga yang paling berbahagia kala itu, bagiku juga semua anggota keluargaku. Sampai suatu ketika,
Sore itu aku baru pulang bermain dari tetangga sebelah rumah, sedangkan kakak-kakakku sedang asik bercerita. Tiba-tiba ayah pulang , tergambar jelas keletihan setelah mencari uang sore itu. Ibu yang biasanya menyambut hangat suaminya itu , kali itu berbeda. Ibu asik di dapur memasak untuk makan malam, dan ayah masuk ke kamarnya tanpa bertegur sapa dengan kami. Sampai tibalah saatnya makan malam. Tak ada perbincangan hangat seputar hari ini , yang biasanya rutin dilakukan. Selesai makan aku dan kakak-kakakku langsung masuk ke kamar masing-masing. “ada apa sih?” tanyaku pada ka Bima “Tak ada apa-apa, ayo cepat tidur!” sahut ka Bima.
Akupun terlelap malam itu. Aku bermimpi buruk. Lalu pagi harinya aku bangun lebih awal, tak ku lihat piring-piring yang biasanya disiapkan ibu untuk sarapan. Kutengok ke dapur, juga tak ada orang… “kemana semuanya?” kataku bukan pada siapa siapa. Aku membuka pintu kamar ka Bima . hufttt--- leganya ternyata masih ada orang, kemudian kamar ka Alia, juga ada. Sangat lega.
Lalu aku bergegas bersiap ke sekolah.
Tiba-tiba kudengar ka Alia menangis . . . .
aku segera masuk ke kamarnya. Di sana sudah ada ka Bima dan ayah. “ada apa?” Tanya ku pada siapa saja yang bersedia menjawab. “ibu pergi ai . .” jawab Ka Bima. “kenapa?” sahutku lagi,, “ibumu sudah tak memperdulikan dirimu lagi aii, sebaiknya buang semua ingatanmu tentang ibu !!!” kata ayah dengan nada yang agak tinggi.
Kalimat yang sungguh menusuk relung jiwaku. Aku memang masih kecil saat itu. Tapi, haruskah aku mendengar hal yang tak pernah aku inginkan.?? “ibumu sudah tak memperdulikan dirimu lagi aii, sebaiknya buang semua ingatanmu tentang ibu !!!” ungkapan hati ayah yang mencerminkan kekecewaannya itu selalu terngiang di telinga bahkan pikiranku.
***
“Tak sepatutnya kau begini Aii. Semua memang sudah waktunya.” Suara ka’Bima yang lirih membangunkan aku dari lamunan panjang tetang sesuatu yang ku dapati hari ini. “Aku tau” hanya itu jawabku, aku tak bisa lagi berkata-kata. Bahkan air matapun seperti enggan untuk turun dan berjatuhan. “Ayah tau, semua ini pasti berat untuk kalian. Tapi, coba bayangkanlah apa yang akan terjadi bila kalian terus bersikap seperti ini?” sahut ayah dari ruangan sebelah yang hanya terhalang tirai. “Apa salah bila aku menangis?? Apa salah bila aku sedih akan apa yang aku terima ini Ayah??? Apa semua hanya akan menjadi debu kotor yang memenuhi fikiranku??” bantah ka’Alia dengan sedikit tersedu, ia menangis dalam kata-katanya. “Sudah!! Lupakan saja ibumu itu jika ia hanya bisa membuat kalian lemah seperti ini. Toh kalian masih punya ayah. Ayah janji akan menjadi lebih baik dari ibu!!”. Sungguh perbincangan yang tak menenangkan hati, ayah dan ka’Alia masih saja berdebat sementara aku dan ka’Bima hanya diam dalam lamunan panjang yang ku rasa tak bertepi.
Sejak saat itu aku berubah menjadi gadis pendiam yang tak suka bicara,, sekalipun pada ayah dan kakak-kakakku. Aku lebih sering di kamar sambil membaca buku. Keluargaku tak heran mengapa aku berubah 180 derajat . . . karena ibu … itulah jawabannya dan selamanya hanya itulah jawabannya.
Kami menjalani hidup yang jauh dari kehangatan suatu keluarga semenjak ibu pergi tanpa kabar. Bertahun tahun sudah semenjak tragedy misterius kepergian ibu. Aku mulai bisa menguasai perasaanku. Seiring berjalannya waktu bisnis ayahku juga semakin maju. Keadaan ekonomi kami jauh membaik , bahkan lebih dari cukup.
Lama rasanya aku menjalani hidup tanpa sosok ibu. Semua menjadi lebih buruk, aku mulai berjalan menuju gerbang khayalan yang tak ada habisnya. Bagi ku saat itu , gerbang itu adalah satu satunya jalan untuk membentengi diri dari rasa marah, takut, dan sedih .
Aku bagai manusia tanpa ruh kala itu ,, ragaku hidup tapi jiwaku mati .
Mengkhayalkan apa yang aku suka sambil mendengarkan sebuah lagu sendu yang membawa aku ke lautan mimpi yang tak bertepi. Seiring berjalannya waktu, aku menamainya “Dunia Kapuk” ..
Karena memang hanya di dunia itulah aku tak pernah terjatuh , atau merasakan yang tidak ku sukai. Dunia kapuk selalu berbanding terbalik dengan dunia nyata. Awalnya hanya iseng karena bosan, tapi aku mulai ketagihan. Aku ingat kisah pertama yang aku khayalkan ,,
Aku berkhayal mempunyai keluarga yang harmonis. Dan sepanjang bulan itu juga aku selalu memikirkannya. Kalau bosan aku mulai mencari-cari kisah baru di kehidupan nyataku yang akan ku bawa ke dunia kapuk.
Aku mulai berubah .. dan ku sadari itu, aku tumbuh menjadi gadis tegas dan tegar , tapi cenderung kasar. Aku mulai kasar pada diriku sendiri, kemudian pada ayah dan kakak-kakaku. Aku tahu ini bukanlah cara untuk keluar dari masalah yang beberapa tahun terakhir ini membelenggu ku.
Aku mulai membenci diriku. Diriku yang tak pernah bisa belajar dari keadaan, diriku yang tak pernah mencoba menjadi lebih baik. Mungkin seharusnya aku bersyukur, karena aku masih memiliki orang-orang yang menyayangiku. Aku memang bersyukur atas hal itu, tapi, rasa perih yang ada di hatiku tak bisa ku hapus.
Sangat terasa .. rasa pedih yang membelenggu
“aku tak kan pernah bisa menjadi apa yang benar-benar aku inginkan sampai sesuatu yang tak pernah aku sadari datang menjemput,, aku menginginkan hal itu cepat datang dan menjemputku kembali pada keadaan dimana aku tak pernah ada dan mengganggu semua ini!!!” desisku dalam hati yang begitu terluka .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar