Kamis, 08 April 2010

VII. KEMBALI

Keluargaku ..
Semenjak aku tinggal di rumah nenek ,, mereka baik-baik sajah. Kami jarang bertemu hanya sesekali saat weekend , tapi tak lama .. atau hanya bertegur sapa di telephone. Ini lebih baik dari pada aku harus menyaksikan kebinalan ka’Alia yang menjadi jadi saat tak ada aku.
Semua kisah tentang masa lalu ku selalu terpatri jelas di hati, mengingatnya membuat degub kencang di dadaku. Itulah kisahku, kisah yang sebenarnya tak ingin ku ingat lagi.
Aku masih duduk sendiri saat menyeka air mata masa laluku.
Kenangan ..
mungkin kata itu yang cocok untuk kisah ini, kenangan tak harus di ingat atau di kenang ,, cukup tersimpan dan menjadi pelajaran.
“ Aku sudah besar .. sebentar lagi aku jadi mahasiswa.. “ rona merah timbul di wajahku .. mengingat sebentar lagi aku lulus.

***


Aku berdiri sontak terkaget saat mendengar bunyi telephone di rumah sederhana ini.. memang beginilah aku sekarang, setelah tahun kedua di SMA, aku memutuskan menempati rumah masa kecilku, rumah dimana ada kenangan pahit tentang ibu , sekaligus masa kecilku yang murang. Aku ingin mandiri ,, sendiri dan tumbuh kuat di tempat yang telah membuat aku lemah, dian pernah mengatakan “ usaikan segala kegalauan hatimu, dengan mendatanginya,, mendatangi apa yang sejak dulu membelenggu hati manis yang terlukai itu”
Aku banyak belajar padanya. Belajar tentang menguatkan diri dan percaya diri.

Segera aku berlari untuk mengangkat telephone .
“ hallo” jawabku dengan terengah-engah .. lelah karena berlari .. “ hallo” jawaban dari seberang, suara laki-laki, agak berat, sepertinya suara ini ku kenal . “bisa aku bicara dengan aii??” sambungnya. “ iia.. ini aii. Ini siapa ya?” menjawab pertanyaannya tadi sambil meraba-raba, sepertinya suara ini akrab . “ini Rio. Hay aii .. apa kabarmu sekarang?? Lama kita tak berjumpa!” sahutnya dengan nada girang. “ R—Rio??? Oo hhh .. iia .. aku baik baik saja. Dari mana kau tau nomor ini??” balasku terbata-bata . “rrio??? Mau apa dia.. dari mana iia tau nomor ini???” aku membatin. “ hahah… senang mendengar suara lembutmu lagi.!!. aku tau nomor ini dari ka’Bima, aku bertemu dengannya tempo hari … lalu kami berbincang-bincang sebentar.”

Setelah percakapan telephone itu, aku dan rio sering jalan bersama, ke toko buku, makan siang , atau hanya sekedar menyegarkan mata di taman. Iia .. rumah rio tidak jauh dari rumahku sekarang , jadi beginilah aku.
Kenangan akan rio seperti mengeruak muncul ke permukaan. Kenangan tentang kisah cintaku padanya. Aku tak menyangka akan bertemu seseorang di masa laluku sekarang. Tak pernah terlintas sedikitpun di fikiranku akan kembali menaruh harapan pada rio. Aku lebih suka sendiri, tak terikat pada siapa-pun.
Aku hanya harus berusaha sekeras mungkin untuk tak melemah seperti dulu lagi .. hal yang aku suka, tak selamanya harus aku benci kan?? .. inilah aku dengan kehidupan baruku. Bersama tokoh utama pria di dunia kapukku. Bersama tiupan-tiupan angin masa lalu yang berhembus nyata.

***

“ aku pulang !!! “ sahutku saat memasukui pintu rumah. Tak ada siapa-siapa di sini, hanya aku dan beberapa perabot lama dan .. ..
Foto masa kecil???
aku mengambil album usang penuh debu itu, sambil duduk di dalam kelambu .. menyekanya dengan tanganku, memandanginya beberapa waktu. Dan kemudian membukanya ragu. Air mata yang telah lama tak terjatuh , kini tumpah ruah di dalam kelambu. Melihat senyum itu, senyuman masa lalu yang sungguh menyiksaku.
Aku tergolek lemah .. sambil memeluk erat album foto itu, aku lemah .. .. aku tau itu, aku merindumu ibu .. ayah .. semuanya ..
Dan kini aku hanya dapat terdiam .. tanpa siapapun di sisiku.

Sungguh malam yang mengharukan, aku tertidur dengan memeluk erat album foto. Sungguh tragis,, memang!

“Tapi kini aku tau bahwa , semua ini akan berakhir!! Pasti ,, aku yakin itu. Karena aku tau semua ini tak akan abadi, sama seperti kepergian ibu. Mungkin besok atau lusa mereka semua akan pergi. ….”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

All Content