Pagi yang hebat, aku tak tertidur semalaman, ketika terbangun.
Mata merah cukup membuat tetangga-tetangga heboh, mempertanyakan apa yang terjadi denganku. Aku keluar rumah dengan pakaian rapih dan mata yang memerah. Tak ada yang berani menyapaku, hal ini tak pernah terjadi sebelumnya, mungkin karena mereka tau aku sedang tidak ingin di ganggu.
Hari ini aku tak tau mau kemana, yang pasti keluar dari rumah dan berkeliaran bagai orang gila. Sempat berfikir untuk melakukan itu, tapi aku tak cukup bodoh untuk menyianyiakan hari ini. jadi ku putuskan untuk pergi ke makam ka’Alia. Untunglah aku berpakaian yang sesuai situasi.
Tak ada siapa-siapa di makam jam begini. Jadi aku lebih leluasa untuk menangis,. Tapi tak kulakukan itu, aku hanya duduk terdiam memandang batu nisannya. Ku elus perlahan dan aku tersenyum, aku hanya ingin menwujudkan keinginan ka’Alia agar aku tak menangis bila mengingatnya.
Aku tak belama-lama disana, karena makam mulai ramai dan aku tak nyaman dengan keramaian itu. Aku berjalan meyusuri jalanan, akhir-akhir ini aku lebih sering berjalan kaki.. aku lebih suka hal itu dari pada pakai kendaraan. Akhir pekan jalanan memang selalu ramai.
***
Kakiku melangkah ke tempat dimana aku pertama kali bertemu Rio. Di SMP ku dulu.. ia … tak ada siapapun disana. Hanya penjaga sekolah yang ternyata masih mengenalku. “De Haiira?? Iaklan?” Tanya Pak Ahmad sang penjaga sekolah yang setia. “iah. Ini saya pak. Haiira. Bapak apa kabar?” sambungku dengan nada agak lembut. “Baik baik. Oh ia, ada apa de’Haiira kemari?”jawabnya ramah. “ah tidak, saya Cuma pingin keliling sekolah lama .” .”perlu saya antar De’?” tawarnya. “tidak. Tidak usah saya bisa sendiri kok”. Pembicaraan selesai di situ dan aku melanjutkan niatan keliling sekolah sementara pak Ahmad melanjutkan perjaannya.
Rasanya sudah lama sekali aku tak kesini. Suasana hening yang membuat aku teringat bahwa dulu disinilah cinta pertamaku bersemi. Aku duduk di bangku dari semen di taman sekolah yang berada tepat di tengah-tengah bangunan. Dan memalingkan wajah ke sisi kanan, disana.. disana aku melihat seorang laki-laki bertubuh jangkung, yang sepertinya tak asing.
“Hy.” Ku coba menyapanya. “Hi.” Jawab laki-laki itu sambil mencari cari siapa yang memanggilnya. “Aii?” sahutnya kaget. “Rio?!sedang apa kau disini?” tanyaku kaget. “aku hanya sedang nostalgia., dan mendokumentasi beberapa hal penting. Kau sendiri?” jawabnya . “entahlah, aku tak tau angin apa yang membawaku kesini, aku hanya sedang ingin melihat beberapa kisah masa lalu yang tersisa di tempat ini.” balasku .
Tak kusangka aku akan benar-benar bertemu sosok yang paling menakjubkan saat di SMP dulu, ku pikir aku hanya akan bertemu bayang bayangnya.
Huh! Rio, mengapa kau selalu datang di saat yang tidak tepat? Mengapa tak dari dulu kau datang padaku, mengapa semuanya serba terlambat?.
Pertempuran aku dengan masa laluku baru saja dimulai, aku bersemangat sekarang. Apa mungkin tuan matahari memberikannya untukku? Heheheeh. Pertempuran dengan rio yang kini berdiri dengan tampan di hadapanku. Aku tak tergoda, hanya tertarik untuk melihat lebih dalam di dirinya, seperti apa sebenarnya dia.
Ia mendekat dan menatapku lekat lekat. Aku tak memalingkan wajah hanya melihat pada mata indah yang misterius itu. “Apakah aku terlambat Aii?” tanyanya. “terlambat apa?” aku balik bertanya. “Mencintaimu” ia tampak serius dan itu menyenangkan. Aku menjauh dan duduk di bangku yang sedari tadi aku duduki. “Cintailah aku seperti sahabatmu. Cintailah aku sepatutnya. Agar kau juga bisa merasakan cinta dariku” sungguh pernyataan yang tak terpikir olehku yang tiba-tiba saja keluar dari mulut. “Nadamu menantang aii.” Sahutnya. “tidak, aku hanya berfikir bagaimana kalau kita coba berteman seperti dulu, atau lebih baik lagi. Aku hanya bisa mencintaimu sebagai sahabatku saat ini.” jelasku. “ tak adakah cinta murnimu untuk sahabatmu ini? cinta yang seutuhnya cinta. Bukan untuk sahabat, melainkan untuk teman special.” Bujuknya. “aku sudah punya cukup teman special Rio. Dua orang teman yang bisa mengajarkan aku banyak hal yang aku sendiri meragukan kau akan mengajarkan itu padaku.” Jawabku.
Tanpa memandangnya aku berdiri dan berjalan dengan senyum menggantung yang sedikit membingungkan dan dengan melambaikan tangan untuk ucapan selama tinggal.
Setan apa yang sedang masuk ke dalam tubuhku ini? mengapa aku menjadi lebih bersemangat dan berani.?? Apa ini karena Angga? Bukan bukan .. aku yakin bukan angga.. tapi diriku sendiri yang mulai bisa menghargai hidup yang indah ini. pribadi baru mulai muncul ke permukaan. Inilah aku sekarang!.
***
Aku melenggang dengan santai keluar pagar sekolah lamaku. Dan melanjutkan perjalanan menuju diriku yang lebih baru lagi. Tiba –tiba aku ingin bertemu dengan Angga. Dan akupun memutuskan untuk ke tempat yang kemarin aku datangi bersama dirinya, aku berharap dia ada di sana.
Dan .. . .. . .. ya, ia berada disana. Sedang menulis sesuatu dengan santai sambil duduk di rerumputan yang hijau. Aku memanggilnya sambil melambai. “Angga” sahutku. “Sudah kuduga kau ada di sini” tambahku. “Aii .. sedang apa kau disini?” Tanya dia agak sedikit terkejut. “Aku . . . aku hanya sedang ingin melihat dan bertemu tuan matahari ini. heehehe” jawabku dengan santai. “hahaha ,, aneh aneh saja, ayo duduk disampingku.” Ajaknya. Akupun duduk disampingnya dengan senyum yang mungkin agak berlebihan. Suasana hatiku saat ini memang sedang baik jadi ekspersiku juga menyenangkan.
Memandang senja yang begitu indah membuat aku terbuai dalam lamunan panjang dan kembali pada “Dunia Kapuk”ku. Aku berkhayal semua yang terjadi beberapa waktu lalu tak pernah terjadi, walau sesungguhnya aku tau itu tak mungkin. Angin mendorongku untuk bersandar pada sebatang pohon yang mungkin sudah sangat tua, karena ukurannya yang besar dan entahlah.. aku hanya berfikir pohon itu sudah tua, itu saja. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirku, saat ini aku hanya ingin menikmati suasana yang entah kapan lagi bisa ku rasakan . suasana yang membawaku pada bayang –bayang masa lalu yang selalu menghantui, namun kali ini agak berbeda, aku menikmatinya seperti sedang menyantap makanan baru tapi tak asing yang sangat lezat. Mugkin sudah sekitar sejam aku berdiam diri seperti ini tanpa sidikitpun kata, dan Angga .. Ia juga tak berbicara bahkan menatapku saja tidak. Ia hanya sedang asik dengan buku tipis yang agak lebar yang sedari tadi menemainya. Kami diam … sampai ia tersadar. “hey apa kau datang hanya untuk mendiamkan sang tuan matahari ini?” ia mulai membuka mulutnya dan berbicara tanpa menatapkau sedikitpun dengan sedikit bumbu senyumannya. Aku tersenyum melihatnya dan lantas berkata “tidak.” Jawabku singkat. “hanya tidak?” sambungnya, kali ini matanya menuju ke arahku. “tidak … aku hanya ingin bersamamu saat ini?” jawabku sambil membalas senyumnya yang sedari tadi mengintaiku. “bersamaku? Benarkah?” Tanya angga agak serius, tapi tetap terlihat manis. “ya. Bersama tuan matahari yang mengubahku menjadi seperti ini” jawabku lagi. “kau bercanda.. bukan aku yang mengubahmu, tapi dirimulah yang melakukan semua itu.. mungkin kini kau sadar bahwa kau bukan satu-satunya manusia di muka bumi ini yang merasakan kekecewaan. Mungkin kini kau tau bahwa banyak sekali orang yang menyayangimu.” Pernyataan panjang itu membuat suasana hening sesaat, dan kembali serius ketika aku memulai kembali percakapan yang sempat terhenti beberapa saat. “terima kasih! Terima kasih atas semuanya. Karena kau lah aku jadi sadar, karena kaulah diriku tau bahwa aku bukan satu-satunya manusia yang terluka!” sambil memalingkan muka yang kurasa mulai memerah. “jadi menurutmu aku juga terluka? Kau salah.. aku tak akan terluka jika kau ada di sini, disampingku sambil tersenyum seperti saat ini” sungguh kata-kata yang membuatku bergidik. Apa benar yang sedang berbicara denganku ini adalah angga.?? Ia tampak aneh hari ini.. tak seperti biasanya. Ia jauh lebih terbuka tentang perasaannya, yang ku akui aku menyukai keterbukaan itu.
aku meliriknya sambil tertawa. Aku tak tau ia tersingggung atau bagaimana, tapi yang pasti adalah aku hanya sedang ingin tertawa. Tertawa bersamanya. “mengapa kau tertawa? Ada yang lucu?” sahutnya melihatku tertawa girang. “ ti.. tidak ..kau hanya terlihat lucu saat serius!” jawabku sambil menahan tawa yang kini tumpah .. aku takut ia tersinggung. “baiklah. Kalau menurutmu itu lucu. Sekarang pejamkan kedua matamu.” Aku pun mengikuti perintahnya. “jangan berfikir tentang apapun. Rasakan hembusan angin yang terasa membelai-belai rambutmu. Hirup udaranya, seakan kau adalah manusia baru yang sedang belajar bernafas. Jangan biarkan pikiranmu melayang, tetap konsentrasi pada aroma padang rumput dan bau menggoda matahari. Sekarang .. khayalkan, kau sedang berdiri di pinggir tebing yang indah sekali dengan matahari yang terasa begitu dengat denganmu. Lalu buka matamu sekarang!” perintah terakhirnya membuatku agak kaget. Lalu ia melanjutkan “ apa yang akan kau lakukan bila kau benar-benar berada pada sebuah pilihan. Hanya ada dua pilihan .. mati dengan tenang dan senyum yang mengembang atau tetap hidup dengan keragu-raguan, artinya tak ada jaminan kau akan tenang dan tersenyum. Dengan menghela nafas dalam dalam, aku mencoba menjawab pilihanku. “ Hidup. Itu pilihanku. Aku akan tetap hidup walau tak ada jaminan akan tenang dan senang, karena dari hiduplah aku bisa belajar merasakan ketenangan dan senyuman senang itu. Terlalu bodoh kalau aku memilih untuk mati. Karena jaminan itu belum pasti, bila di dunia saja kau tidak tenang bagaimana di sana. Hanya itu pemikiranku saat ini. “ pilihku dengan mata yang berbinar-binar. “kau hebat!” ia memujiku sambil bertepuk tangan kecil. “tak ku sangka kau akan memilih hidup … kau memang benar benar pantas untuk dicintai semua orang bahkan masa lalumu yang mungkin kini kau rindukan!” .. Pembicaraan kami agak serius sore itu, sampai malam tiba dan Angga mengantarkan aku pulang.
Tak enak rasanya karena harus membuat Angga susah dengan mengantarku pulang tapi, mau apa lagi ia yang memaksa.
***
Aku sampai dipagar rumah saat Angga mengatakan sesuatu “Selamat malam putri bulan. Ku harap kau bisa tidur nyenyak dan bangun pagi, agar tak terlambat lagi!” kata-kata terakhirnya membuatku tersenyum malu, lalu ku lambaikan tangan pada Tuan matahari itu yang melangkah pergi menjauh. “jadi ..kebiasaan terlambatmu belum juga hilang? Putri Bulan?? Itukah panggilannya kepadamu?” suara yang tak asing kini datang dan sedikit menganggu. “Rio? Mau apa kau kesini malam-malam?” tanyaku sambil memutar badan menghadapnya. “Jadi dia teman spesial itu?” sahutnya tak menjawab pertanyaanku melainkan mengajukan pertanyaan tentang Angga. “Dia hanya teman” jawabku datar, tak ada rasa ketakutan yang melanda sejauh ini. “Hmmm… Maaf, tapi aku meragukan jawaban mu. Aii” Ia mengerenyitkan dahi sambil menopang dagu dengan telunjuk kanannya. “Terserah kau mau bilang apa Rio. Yang pasti kau bukan siapa-siapa aku, dan tentu kau tak berhak tau banyak tentang aku. Terima kasih atas suguhan malamnya, tapi aku mengantuk dan ingin tidur. Selamat malam Rio .. semoga kau mimpi indah dan berhenti mengurusi urusan orang lain” kalimat terakhir yang ku ucapkan padanya mungkin sedikit kasar, tapi biarlah …
***
“Semoga akan selalu seperti ini …
Hanya aku dan kekuatan baruku bersama semangat baru Tuan Matahari.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar