Sebenarnya aku tak rela melepaskan kehidupan penuh darah ini. Tapi mau bagaimana lagi. Ayah mengirimku ke rumah nenek ..
“Kenapa?? Kenapa ayah mengirimku ke sini??? Apa mereka sudah bosan melihatku .. ???!! apa aku salahh ,, bila ia , apa salahku!”
Tetap saja, walau aku kesal pada Ayah dan ka’Alia, aku tetap akan mencintai mereka. Mereka Satu-satunya yang ku inginkan saat itu. Aku menangis ,, tersedu sampai susah bernafas. Tak pernah ku bayangkan akan kehilangan orang-orang itu dalam sekejab.
***
Pagi sudah tiba .. aku terbangun dari tidur malam yang mengerikan .. karena membayangkan saat terbangun nanti. Ternyata memang benar suasana yang tak biasa ku rasakan. Bunyi gemericik air kolam ikan yang merdu, wangi bunga-bunga yang mekar di pagi, bau embun basah yang menyegarkan, dan sapaan hangat dari nenek. Semua itu tak pernah ku dapatkan di rumahku. Menyenangkan memang .. tapi, kerinduan akan ayah, ka’Alia dan ka’Bima tak terelakan.
“ Pagi Aii .. kau bangun pagi-pagi sekali, sarapan sajah belum siap” sambut nenek. “ iia .. “ jawabku sambil sedikit senyuman. “ Sarapan siap .. .. !!” sahut salah seorang pembantu di rumah itu. Kami pun duduk bersama di ruang makan itu , sambil meneruskan percakapan yang terpotong tadi, “ Bagaimana rencana mu aii?? Tentang sekolah barumu. “ Tanya nenek. “ entahlah. Aku belum memikirkannya, mungkin kau punya saran?? “ jawabku dengan nada kurang bersemangat . “ Aku sudah mendaftarkan kau di salah satu sekolah. Tidak terlalu dekat. Untuk itu saat pergi sekolah kau akan di antar ,, begitu juga saat pulang .. di jemput. “ . kemudian hening “lega rasanya mendengar sekolah baru itu jauh, tapi haruskah aku seperti terikat begini??? Aku sudah besar nenek!!” batinku.
“ nek .. kalau boleh, aku tak perlu di jemput atau di antar .. aku kan sudah besar. Aku bias sendiri. “ sambungku pelan .. berharap kata-kataku tadi tidak membuat dia marah. “ ohh iia .. .. tidak masalah kalau itu maumu. “ sahutnya. “huhhhhhhh … lega rasanya ia tidak marah!!”
Pagi itu topik pembicaraan kami adalah “ayah”. Nenek ku yang ini memang merupakan ibu dari ayahku. Ia mulai dari masa kecil ayah yang menyenangkan. Dan “bla bla bla blab la bla bla bla . .. . . .. . . . . BOSAN!!!!!! Aku disini bukan untuk mendengarkan curhatan seorang ibu tentang anak laki-lakinya.!!!!”
Tinggal di rumah nenek saat itu tidak buruk juga. Beberapa hari sebelum aku masuk sekolah, nenek dan para pembantunyalah yang repot mencarikan kebutuhan sekolah baruku. “hehehehe… … boleh juga “
***
Bersama nenek, membuatku mengerti kasih sayang seorang ibu pada anak dan cucunya. Ia mengajarkan aku tentang banyak hal di dunia ini yang lebih penting difikirkan, daripada harus mengunci diri dikamar seharian penuh.
Aku pernah bertanya pada nenek, apa yang sebenarnya ia bilang lebih penting itu? Dan inilah jawaban dari hati seorang ibu yang tulus ..
“Tuhan dan Orang-orang yang kau cintai. Hanya itu yang penting dari pada yang lain. Kehidupanmu … hal itu tak menjadi hal penting bagi nenek karena hidup sudah ada yang mengatur, yaitu Tuhan. Sedang kan Tuhan itu yang terpenting, jadi secara tidak langsung kau sudah mementingkan keduanya. Sementara orang yang kau cinta. Hmmm .. itu menjadi penting karena tanpa mereka, kita bukanlah siapa-siapa. Mungkin saja tanpa mereka kita tak punya nama, atau keluarga. Mereka berharga Aii! Resapilah itu. Sayangilah apa yang mereka cintai, karena dari situlah kau bisa mementingkan segala hal yang berhubungan dengan cinta.”
Sungguh! Aku terperanga mendengar kata-kata dari wanita berusia 70’an. Aku kagum pada nenek. Aku tau bagaimana ia diperlakukan oleh anak dan cucunya. Nenek memang tergolong mampu untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, tapi bagaimana dengan batinnya, yang selalu menghawatirkan anak dan cucunya. Aku merasa sangat hebat saat ini. Karena aku bisa memberikan kasih sayang walau hanya sedikit pada nenekku.
***
“Dialah cinta, Dialah keluarga ..
Sosok yang tak akan pernah aku lupa. Seseorang yang mengajarkan aku banyak hal tentang kehidupan dan bumbu-bumbunya. Segalanya berbeda saat itu.
Jauh lebih indah bersama Wanita tua dengan segala macam cinta ….”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar