Kamis, 08 April 2010

XVII.-CINTA-

“Apa kau tak pernah mencintaiku?” Tanya Angga dengan tatapan yang aneh bagiku. “Tidak juga.. aku .. mengagumimu.” Jawabku spontan. “Jadi kau tak akan pernah mencintaiku?” Tanya dia lagi penasaran. “Bukan tak akan, tapi belum .. aku hanya sedang mengagumimu. Belum mencintaimu.” Sambungku. “Tapikan kau tau aku mencintaimu. Mengapa tak kau coba untuk mencintaiku juga?” aku tertawa kecil, tak ada maksud menyinggung. Tapi, itu seperti sesuatu yang lucu untukku. Untuk pertanyaan terakhirnya aku tak menjawab.
Bel berbunyi dan aku mendorong Angga menuju kelasnya, tanpa suara.


***

Hari ini, sepulang sekolah. Angga mengajakku bertemu di tempat biasa kami melihat Tuan matahari dan Putri bulan. Aku senang.. entahlah, kesenangan yang aku rasakan melebihi sebelumnya. Aku hanya ingin cepat bertemu Angga hari ini, dan menceritakan sesuatu yang ku temui di panti asuhan kemarin.
Tapi, rasanya terlalu banyak yang menghantui ku hari ini. Tugass… yang menumpuk membuat waktu istirahatku yang tersisa sebelum bertemu Angga tersita. Aku harus menyelesaikannya tepat waktu. Dan.. waktu tentu tak akan berhenti hanya untuk menungguku tidur sejenak melepas lelah yang sedari tadi menghantui.

Aghh!! Sial….!!!!! Aku ketiduran! Kenapa bisa?? Apa alarmnya mati?
Aku kesal bukan main. Tapi, tak ku sia-siakan waktu yang tersisa. Segera aku bangun dan mandi menuju kesana.
Sampai sesuatu membuat aku tambah kesal.
“Rio?? Mau apa kau datang kesini?” tanyaku pada seseorang yang berdiri di depan pintu rumah yang terbuka lebar. “Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Bolehkan?” jawabnya dengan gerak tubuh yang tidak biasa. “Tidak! Aku ada urusan penting dengan seseorang. Mungkin lain kali Rio..” bantahku dengan wajah yang kurasa memerah karena kekesalan yang memuncak. “Apa? Aku sudah jauh-jauh ke sini hanya untukmu, Aii. Masa kau menolakku!” sahutnya lagi dengan nada tidak terima. “Oh! Ayolah Rio .. jangan membuatku BOSAN dengan kelakuanmu ini. Aku sudah terlambat. Masih banyak yang harus ku urusi yang pasti jauh lebih penting dari pada kau! Jadi, aku persilahkan kau untuk membalikkan badan dan berjalan lurus menuju pintu gerbang.” Perbincangan tidak penting itu tak berhenti sampai disitu. Rio terus mengikuti kemana aku pergi, dan aku tau aku tak bisa keluar rumah dalam keadaan seperti ini.
Jadi ku putuskan untuk mengatakan pada Angga bahwa aku tak bisa datang. Tapi, beberapa kali ku telp dia, tak pernah ada jawaban. Bahkan saat ku sms, tak ada balasan. Aku mulai merasa bersalah padanya. Karena yang ada difikiranku saat ini hanyalah, Angga yang sudah menungguku sedari tadi dan pulang karena aku tak datang. Mungkinkah ia marah??

Kini aku merasa racun kegilaan mulai memasuki tubuh dan menjalar sampai tak ada ruang lagi untuk darah.
Aku dihantui rasa bersalah yang amat sangat karena ku rasa aku telah membuat Angga marah. Dan sekarang aku hanya berdiam diri di kamar yang terkunci dengan seseorang yang ku anggap ‘GILA’ berada di luar.
Semuanya kacau hari ini ….

***


Apa yang selama ini sering aku bahas dengan Angga, sebenarnya aku tak begitu mengerti tentang hal itu.. “Cinta” .. itulah yang aku ingin tanyakan pada Angga minggu lalu. Tapi, semenjak keterlambatan dan kekacauan yang terjadi minggu lalu Angga seakan menghilang entah kemana. Aku tak bisa menemuinya di sekolah, karena memang ia tak ada. Sempat aku hubungi tapi tak pernah ada respon darinya. Bahkan yang membuatku heran adalah aku tak bisa menemukannya di rumah dia sendiri, setiap aku datang adiknya selalu ingin cepat-cepat menutup pintu dan menyuruhku pergi. Berbagai alasan yang tak logis sekalipun ia lontarkan agar aku segera pergi dari rumahnya.
Aku juga Tanya pada Dian. Tapi, lagi-lagi ia tak tau …


Selama ini aku berfikir bahwa Angga itu orang yang baik. Tidak mungkin ia akan marah berkepanjangan hanya karena masalah remeh seperti ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi, pasti! Aku yakin.

Aku merasa kehilangan dan itu sangat menyakitkan. Karena semua orang seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang penting dariku. Tentang Angga, aku tak pernah berbohong padanya. Aku memang tidak mencintainya, aku hanya mengaguminya. Apa itu tak cukup membuat hatinya merasa senang?? Apa yang Angga inginkan dariku sebenarnya? Mengapa ia memperlakukan aku seperti ini? Aku …? Aku … kecewa ….
Kecewa akan apa yang selama ini ku terima dari Angga ternyata tak sepadan dengan akhir yang menyakitkan.

Berminggu-minggu aku jalani tanpa seseorang yang bernama Angga,
Sudah cukup apa yang kulakukan selama ini. Selama ia tak ada.. aku sudah mencoba mencari namun, hasilnya selalu sama, aku sama sekali tak mendapatkan apa yang aku inginkan. Walau hanya sekedar pernyataan kemana ia selama ini.

Seiring berjalannya waktu,
aku LULUS ….
Dengan senyum yang mengembang disana sini. Ayahku datang hari ini. Untuk melihatku tersenyum bangga pada diriku sendiri. Acara hari ini tak banyak. Hanya beberapa acara formal dan beberapa atau mungkin banyak acara anak muda yang kebanyakan di isi anak-anak kelas 3 yang sudah akan ‘pergi’.
Dian menghampiri aku dengan ayah. Ia menyapa ayah dan segera berbicara padaku. Entah ayahku sadar atau tidak, tapi sepertinya ia mengerti. Karena ia segera meninggalkan aku dan Dian.
Dian memelukku erat. Aku rasa ia mulai menangis.
“Kenapa?” tanyaku. “Aku tak bisa membayangkan akan kehilangan kau Aii.” Jawab Dian denga isak tangisnya yang menyertai ucapannya. “Tenang saja.. kita semua tak akan berpisah bukan? Kitakan tetap satu.” Sahutku sambil melepaskan pelukannya, dengan maksud ingin menghapus air matanya dengan kedua ibu jariku. “Tapi, aku merindukan Angga …..” balasnya masih dengan tetes air mata yang berlinang. “Mengapa ia harus pergi, tanpa permisi?? Mengapa ia harus melakukan semua ini?? Mengapa Aii?” tambahnya lagi. Aku tak bisa menjawab semua pertanyaannya, karena pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang selalu berputar di fikiranku juga. Aku hanya terdiam dengan linangan air mata yang turun perlahan. Aku membisu dalam diam bersama Dian dan kerinduan akan teman.

Tak bisa ku pungkiri rasa rinduku pada Angga membuat aku merasa di aduk dalam adonan donat yang lembek dan tak karuan. Dian dan aku berjalan di jalan kita masing-masing, kami tak bermusuhan, melainkan mencari apa yang selama ini kami inginkan. Sesekali bertemu dengan tawa dan berakhir dengan air mata, mengingat Angga. Kami, aku dan Dian .. kami sama-sama belum bisa menggantikan bayangan Angga dalam kehidupan kami.

Entah mengapa Angga begitu berharga untukku bahkan untuk Dian. Angga adalah saudara, kakak, teman, sahabat, kekasih, bahkan guru untuk kami. Tapi, ku biarkan semuanya mengalir. Aku mulai bisa menerima walau perih, mungkin karena aku terlalu mengenal Angga, atau karena aku tak benar-benar mengenal Angga?


***

“Bahkan sampai sekarang aku tak mengerti apa itu “Cinta itu Cinta” …
Mungkin hanya Angga yang akan tau apa itu sebenarnya ………….”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

All Content