Bel berbunyi . . . aku terlambat lagi. Tak ada hari tanpa ocehan keras dari guru piket.
Ku lihat Dian dan Angga sedang menatapku lucu saat dihukum oleh Bu Sisi, nama yang buruk untuk seorang guru arogan seperti itu, sangat tidak cocok. Hari ini aku dihukum membersihkan halaman belakang sekolah bersama anak-anak yang terlambat lainnya, sementara Dian dan Angga memberikan lidah panjang mereka pertanda aku kalah hari ini, dan mungkin aku tak akan menang. Ini memang perjanjian kami, aku, Dian, dan Angga. Setiap ada yang terlambat atau lupa mengerjakan PR salah satu diantara kami, itu artinya kalah. Dan yang kalah itu hukumannya bervariasi, sesuai dengan siapa yang memberi hukuman. Aku sendiri bingung mengapa aku mau mengikuti peraturan bodoh itu, padahal aku sendiripun tau kalau aku yang akan selalu kalah.
“Bagaimana piket ku hari ini aii,?” Tanya Dian, mengejekku. “ya ya ya … aku tau .. itukan hukumannya. Mengerjakan piket kelas Dian Permata Zahra. Dan kau? Tuan matahari.. apa hukumanku hari ini?” tanyaku sambil memperlihatkan muka yang tak enak dipandang. “Hukumanmu Aii .. .. menemaniku hari ini!” wow .. hukuman macam apa ini?? Angga, kau memang manusia paling aneh yang pernah ku kenal! “Hahahaha … .. Angga Angga, apa sih yang sedang kau pikirkan? Itu sih curi-curi kesempatan.. bukannya memberi hukuman!” tawa Dian yang menggelagar seisi kelas membuat beberapa teman sekelasku memandang ke arah kami. “Hey! Dian, itukan terserah aku .. bukan hak mu mengaturku. Lagipula itu juga salah satu hukuman kan Aii?” ia menatapku dengan pertanyaan itu. “Ehh .. sory, tapi kalau harus menemanimu… aku tak bisa .. Angga . Maaf” aku agar ragu mengucapkannya. “Hahahaha, sudah ku bilang Angga, jangan suka mencuri kesempatan! Tuhkan Aii sendiri yang tidak mau.” Olok Dian atas permintaan Angga yang sebenarnya tidak masuk akal. “Ah. Benarkah? Mengapa tidak bisa?” tanyanya masih penasaran. “Aku ada janji dengan ka’Bima .. ia menyuruhku datang ke rumah ayah hari ini.” jawabku sambil menundukkan wajah. “oh.. kalau begitu tak apa, lain kali mungkin?” “Kau ini masih saja tidak menyerah Angga” potong Dian. “ya.. mungkin!” sahutku sambil melanjutkan piket Dian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar