“Hari ini, kau tidur disini saja Aii.” Sahut ka’Bima yang sudah tampak lelah. “Iah ..” jawabku datar. “Kau tau Aii, aku sangat senang kau masih bisa melihat pertunangan ini. karena sungguh aku agak kecewa dengan kepergian ibu dulu .. yang sangat berdampak bagi aku dan semua orang.” Ka’Bima mulai bercerita lagi,, dan kini wajahnya agak cerah karena terkena sedikit sinar bulan. Kami duduk di teras atas rumah berdua, sambil bercerita tentang apapun yang ingin kami ceritakan. Sementara ayah sudah terlelap dari tadi.
“Aku juga senang!” timpal aku dengan wajah yang berbinar-binar. “Hmm ..Naya .. dia baik Aii, aku sangat mencintainya, aku ingin ia hanya untuk ku. Aku juga ingin ia mencintaiku sebagaimana mestinya. Bisakah itu?” tanyanya agak serius. “Bisa! Karena kalian saling mencintai. Aku bahkan sampai iri melihat kalian berdua.” Tawa kami memecah keheningan malam itu. “Ohya , Aii. Aku menemukan sesuatu yang sepertinya milikmu” ia berdiri sambil mencoba mencari sesuatu. Beberapa saat, sampai ia kembali duduk disampingku. “Ini” sodornya. Sebuah kotak bertuliskan ‘AKU ’ . lalu ku buka kotak itu, ada secarik kertas didalamnya yang terbungkus amplop warna pudar. “Aku belum membukanya Aii” sahut ka’Bima.
Ku ambil surat itu dan ku buka dengan perlahan. Tak ada nama pengirim atau untuk siapa hanya sebuah tulisan indah yang kukenal. Tulisan Ibu .. .. .. ..
Aku pergi bukan untuk siapapun, aku pergi hanya untuk aku. Mungkin kalian marah padaku saat ini, tapi aku tak akan bisa kembali. Sudah lama ingin ku katakan ini padamu Mas! Tapi tak kunjung ku beritahu,. Bahwa aku harus pergi meninggalkanmu dan anak-anak. Mungkin kau bertanya-tanya, tapi yang ku bisa beritahu hanyalah “aku tak bisa lagi mencintaimu” walau kau pernah singgah dihatiku dulu. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku membenci diriku. Salahkan saja aku Mas! Karena aku bukanlah ibu yang baik untuk anak-anak. Sekarang atau nanti.
---Laluna---
Aku membacanya dengan suara yang lirih, sambil meneteskan air mata. Ka’Bima merangkulku. Kini aku tau untuk siapa surat itu sebenarnya. Untuk ayah, … dari ibu. Ingin rasanya aku berlari menuju gerbang kehancuran. Sakit rasanya hati ini, mengingat ibu, orang yang selama ini menjadi idolaku adalah seorang Pecundang yang munafik. Aku hanya kacau karena ternyata aku lahir bukan karena “Cinta”. Dan tak pernah ada “Cinta” untukku, karena Cinta itu tak seindah yang ku lihat.
Aku selalu memimpikan cinta yang indah seperti cinta ayah pada ibu, aku selalu menginginkannya. Karena bagiku cinta itu mereka, sekalipun aku membenci ibuku sendiri. Tak pernah ku bayangkan, bahwa Cinta itu ternyata sia-sia. Cinta hanya membuat orang lemah.
Dadaku sesak, pikiranku buyar, air mataku berlinang. Namun ka’Bima tampak biasa, tak terlalu sedih layaknya aku, dia hanya berkaca-kaca dengan wajah yang pucat. “Akhirnya, kau tahu tentang hal ini Aii.” Ka’Bima mulai membuka pembicaraan. Aku tak menyahut sama sekali, rasa aku hancur berkeping-keping. “Ibu. Aku memang tak pernah berharap banyak untuk dia. Dia hanya beban yang selama ini berputar di pikiranku. Dia?? Jujur aku membenci Wanita tua itu!. Katakan saja bahwa aku anak durhaka, tapi apa yang akan kau katakan tentang ibu durhaka? Yang tak pernah mengakui anak dan keluarganya sendiri. Yang hanya mementingkan dirinya sendiri.” Ia mengungkapnya dengan nada yang tinggi “Aku .. Aku merindukannya! Aku mencintainya, aku sangat ingin memeluknya. Aku ingin ia melihat kebahagiaanku. Aku sayang padanya.” Tutur ka’Bima setelah nada yang tinggi, kini dengan sedikit linangan air mata.
Aku juga … aku merindukan ibu! Aku mencintainya,
Apa salahku?? Mengapa ibu harus pergi dulu! Padahal aku sangat menginginkan masa-masa remajaku di temani oleh ibu! Aku menginginkannya. Karena tak ada yang bisa menggantikan ibu di hatiku. Bila aku mendapatkan kesempatan dari bintang jatuh malam ini, aku ingin meminta ibu untuk kembali pada kami. …. Tapi, apa??? SEMUA ITU TAK ADA GUNANYA!!!!!
Ia membenciku, ayah, ka’Bima, atau bahkan ka’Alia.
Aku masih terus menangis dengan tangan yang menggenggam erat kertas itu. Aku tak bisa lagi berkata-kata. Andai ibu kembali, kan ku peluk dia, kan ku rangkul dia sampai tak bisa lepas lagi. Lalu, akan ku renggut jiwanya, kan ku rebut cinta darinya, agar dia tau bagaimana rasanya jadi aku yang hidup tanpa jiwa dan cinta. Setelah itu aku tak akan lagi menoleh padanya, pada orang yang telah menodai kehidupanku dengan tinta yang sungguh membunuhku.
Kini, dengan tubuh terlentang di ranjang. Aku mencoba berfikir, akankah semua ini selesai pada tempatnya?? Aku hanya ingin yang ku mau. Hanya itu. Oh Tuhan!! Tolonglah aku … bantu aku keluar dari ruang lingkup yang menyedihkan ini… Jeritan hati penuh arti yang tertoreh dalam di lubuk hati.
***
Laluna, seorang wanita cantik yang mampu membuat semua pria terpanah. Seseorang yang hidup di lingkungan yang tanpa kesenangan batin, atau sering kita sebut Cinta. Luna adalah wanita yang cerdas, popular, cantik, dan menawan dikalangan teman sekantornya. Namun, hanya satu yang ia butuhkan. Yaitu, cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya laluna kesepian dengan semua hal yang membelenggunya. Sampai suatu saat ia bertemu dengan seorang bernama Satria, seorang pria dewasa yang umurnya lebih tua setahun dari Laluna. Satria bukan orang yang menonjol dilingkungannya, ia sosok yang sederhana, cerdas, tampan, dan baik. Satria bertemu dengan Laluna di taman kota. Mereka merupakan dua individu yang berbeda satu sama lain. Sejak saat itu, mereka berdua menjalin hubungan yang lebih serius. Dan tibalah mereka pada suatu titik dimana kedewasaan itu di uji. Satria melamar Laluna, dan menikahlah mereka berdua.
Namun, ada satu hal yang Satria belum ketahui. Yaitu, bahwa Laluna belum benar-benar yakin padanya. Laluna hanya berfikir bahwa mereka berbeda dan tak mungkin menjadi satu. Tapi, ia menepis jauh fikiran itu.
Perjalanan mereka sudah lumayan panjang dengan tiga anak yang manis dan lucu. Tapi, Laluna memutuskan untuk menghentikan semuanya. Ia pergi tanpa alasan yang pasti. Satria sangat kecewa akan tindakan Laluna. Sampai Satria mengetahui alasan Laluna pergi. Yaitu, ia tak pernah mencintai satria sepenuh hati. Rasa sesal yang berkecambuk di hati Satria membuat ia merasa frustasi. Ia melimpahkan semuanya pada tiga anaknya yang sudah hampir memasuki fase remaja.
Itulah untaian kata dari ibu yang selalu membuat ayah merasa dihujani meteor. Aku mengerti bagaimana perasaan ayah sekarang bila mendengar nama ibu. Ia memang tak menikah lagi, tapi ayah pernah memcoba memulai hubungan sederhana yang keras namun tak berhasil. Mungkin karena kekerasannya itu. Ayah berhenti pada jalan yang menurutnya salah. Ia kembali pada aku, dan kakak-kakakku.
***
“Untaian kata ibu yang menyesakkan dada.
Selalu terbayang di kepala kami semua, ku harap kau baik di tempat yang menurutmu jauh lebih indah dan menyenangkan
Tempat yang selalu kau inginkan selama ini …
. ku harap kita tak akan pernah berjumpa lagi”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar