Hari yang melelahkan …
Saat aku membuka mata yang masih berat. Tak ku sadari aku sudah berada di rumah “ibu”ku. “mengapa akhir-akhir ini sering terjadi hal yang aneh?”
Memang, setelah hari-hari penuh kepedihan itu – kepergian ka’Ali – . Aku sering merasa melewatkan sesuatu atau beberapa waktu dalam hidupku, maksudnya .. aku tak bisa mengingat hal apa saja yang terjadi di sebagian waktu, seperti hilang ingatan, tapi tak seberat itu. Aku masih bisa mengingat hal-hal aneh dalam hidupku yang lainnya. Hanya beberapa saja yang sepertinya ‘terhapus’ atau ‘dihapus’ ..
Aku pernah membicarakan keadaan aneh ini pada ka’Bima, dan ka’Bima bilang .. “Itu hanya karena kau terlalu lelah. Beristirahatlah beberapa waktu, lupakan segala kegundahan hatimu. Buang yang tidak penting lagi sekarang. Jalani hidupmu seakan semua ini tak pernah terjadi.” Jawabnya panjang lebar.
***
Kehidupanku disekolah biasa saja, tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Ada Dian .. Guru-guru yang aneh dan membosankan .. dan Angga … entah mengapa aku mulai mengaguminya --Aku lupa-- mungkin semenjak aku bertemu dengannya di taman rumah sakit beberapa waktu lalu. Ia terlihat sangat tegar.. bahkan sekarang ia sering bersama aku dan dian. Ia tak seperti laki-laki remaja yang lainnya, ia tak lagi bisa melompat dan membuat para gadis di sekolah lemas tak berdaya. Ya ..ia memakai kursi roda saat ini.
Ku tatap matanya untuk beberapa saat, kuat..tegar..baik..tulus.. itulah yang terlihat dari secercah sinar dari matanya .. dan … “kenapa?” sahutnya mengagetkanku, “Ah .. apa? Kenapa??” jawabku terbata-bata. Aku memang menatapnya sedari tadi saat dian sedang asik mengoceh sana sini. “Kau! .. kau memandangiku seperti itu?.. kenapa?” tanyanya sambil memutar tubuhnya yang sekarang berhadapan denganku. “Ah .. tidak .. aku hanya, hmmm, hanya iseng! Heheheeh” bantahku. “ok.. alasan yang tidak masuk akal lagi Aii . . “ balasnya sambil tersenyum manja.
Aw !! Aku hanpir saja ketahuan menatap mata seorang lelaki yang manisnya tak tertahankan! Bahaya… bisa-bisa ia menganggapku … … ah tidak tidak, yah .. memang harus ku akui aku mengaguminya, karena ia orang pertama yang mengajarkan aku bahwa “hidup ini indah”. Tapi, bukan berarti aku menaruh hati padanya kan …
***
Siang yang terik, saat ku pulang sekolah menuju rumah.
Dan sampailah aku, ditempat yang memang seharusnya ku berada. – rumah—jadi ingat, dulu saat semuanya masih ada di rumah ini, setiap pulang sekolah aku selalu disambut dengan sapaan hangat ibu dan aroma lezat makanan dari dapur. Sekarang?? Jangan ditanya, dapurku saja hanya sesekali mengepul. Bukan karena tidak ada uang untuk membuatnya mengepul kembali, ayah selalu mengirimkan uang setiap bulannya. Hanya saja, aku tak bisa masak. Sebenarnya aku punya pembantu .. tapi sekarang ia sedang pulang kampung. Hufttt.. sungguh sial nasibku. Tak bisa masak, dan tak ada yang bisa memasakan. Mau beli makanan di luar.. ah malas.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengisi perut dengan sepotong roti sisa tadi pagi yang tidak habis. Sambil membaringkan tubuh di ranjang empuk yang tergolong sudah tua itu aku mengunyah roti. Tiba-tiba hpku bergetar .. Angga??
From : Angga
15.00
haii
. . Aii??
Apa aku mengganggumu.? Aku hanya ingin mengajakmu pergi sore ini, ketempat yang kuharap kau suka.
Bisa kah?
Ah? Apa ini? kenapa aneh sekali.. ah sudahlah,
Aku membalas pesannya dan berkata iia, kami janjian bertemu di persimpangan toko buku yang biasa aku dan dia kunjungi.
***
Waktu yang sangat mendebarkan. Aku sangat suka saat-saat seperti ini. aku pergi dengan harapan .. semua yang akan ku lihat nanti akan menjadi hal yang indah yang ku dapat dari Angga.
Aku sudah menunggu di persimpangan toko buku saat angga dengan tergesa-gesa mendorong kursi rodanya.
“maaf yah. Aku terlambat!” dengan nafas yang tak beraturan ia mencoba meminta maaf. Aku hanya tersenyum melihatnya. “tadi aku harus mengantarkan adikku dulu ke rumah temannya.” Ia mencoba menjelaskan berharap aku tak marah. “tak apa. yang penting kau sudah menepati janjimu untuk datang.” Jawabku santai.
Kamipun berjalan., aku mendorong kursi rodanya dengan hati-hati. Aku memutuskan untuk berjalan kaki karena, entahlah.. aku hanya suka menikmati suasana sore hari di kota yang padat dan sibuk ini. Angga menunjukkan arah kemana aku harua mendorong dan berjalan untuk ke tempat yang ia maksud. Aku berhenti sejenak, dan duduk di bangku taman kota sejenak untuk melihat wajahnya yang mulai memerah saat aku menatapnya.
“mengapa kau behenti?” tanyanya ragu, sambil membuang muka seakan malu. “tidak, aku hanya ingin bertanya padamu. Bolehkah?” jawabku “b. …boleh, tapi tidak dengan tatapan menakutkan itu!” .. “hahha,, ya ya, aku tau. Aku hanya bercanda. Ohya, mengapa kau ingin sekali membawaku ke tempat yang kau maksud itu?” Tanyaku langsung. “tidak ada .. aku hanya ingin di temani. Tidak apa kan?” jawabnya sudah sedikit rileks. “ya tentu” ..
Matahari tinggal setengah saat kami sampai di tempat itu. Cukup jauh, namun . indah ………….. sekali. aku tak memalingkan muka dari sinar hangat yang begitu menggoda itu sampai Angga harus menggoyangkan tubuhku agak keras. “kau tau Aii, aku sangat menyukai matahari. Karena dari sanalah aku mencoba kuat dan tegar. Aku tak sehebat yang kau pikirkan, aku hanyalah korban penyiksaan yang tak pernah mendapatkan kasih sayang sebelum ini. Ayahku gila, karena bangkrut. Ia membunuh ibu didepanku. Mempertontonkan hal yang tak sepantasnya dilihat anak seumur jagung itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa, pada saat anak-anak lain bersiap dengan seragam putih birunya, aku malah lari dari rumah bersama adikku. Aku lari kerumah bibiku. Dan sampai sekarang aku tinggal disana bersama adik, bibi, dan pamanku.” Ia memulai kisah yang aku tak tau harus memberi tanggapan apa. “aku juga sama denganmu. Ibuku pergi, tapi bukan meninggal .. itulah yang membuatku sedih, seandainya ia meninggal aku akan lebih senang karena aku tau dimana ia berada. Tapi ia malah pergi tanpa kabar dan meninggalkan aku, ayah, dan kakak-kakakku. Baru-baru ini kakak perempuanku pergi ke kedamaian abadi. Ia meninggal. Aku tinggal sendiri sekarang, aku tak mau tinggal bersama ayah dan kakak laki lakiku karena luka masa lalu yang tak terobati. Kita sama” sambungku.
Kami mulai dari masa lalu yang “agak” sama. TERLUKA itulah yang sama-sama kami rasakan. “Matahari? Kenapa matahari?” tanyaku bingung. “kau tau, matahari itu tak pernah letih atau hanya sekedar mengeluh karena lelah bersinar. Ia hebat .. sangat hebat, bisa menerangi seluruh jagad raya ini. bahkan ia memberikan sedikit sinarnya pada bulan .. agar bulan juga menderang. Nah.. aku ingin seperti matahari yang tak pernah mengeluh, tetap tegar dan hebat. Aku juga mau menjadi sesuatu yang berarti bagi orang-orang disekitarku”. Aku terperanga mendengar jawabannya. “aku mau menjadi bulan dan kau mataharinya”. Ia menatapku serius .. lalu ku lanjutkan “karena aku ingin menjadi sepertimu, paling tidak aku mendapatkan sedikit semangat darimu, tuan matahari. Hahahah” Ia tertawa mendengar lanjutan kalimatku.
Aku senang. Melihat dunia seakan tersenyum pada aku dan angga. Kami tertawa girang sembari bercanda.. semua beban yang selama beberapa tahun ku pikul , kini rasanya hilang entah kemana, mungkinkah masuk kedalam bumi. Atau aku mulai bisa menghargai arti sebuah senyuman?? Entah …. Yang pasti aku ingin terus merasa seperti ini. seakan sedang melayang layang di udara dan membiarkannya terbawa angin.
***
Aku terbangun dari tidur yang begitu lelap, saat matahari belum tampak. Sungguh malam yang dingin namun menyimpan banyak misteri.
Jam berapa ini? kenapa aku terbangun mendadak begini, padahal tadi sore sangat melelahkan.
Tak ada siapa siapa saat aku menggenggam gagang pintu dan memutarnya untuk membuka kayu reot itu. Aku duduk didepan Tv sambil menggosok gosokan mata yang terasa masih berat. Tak ada niat untuk kembali tidur, besok hari minggu jadi libur.
Entah, ada angin apa aku ingin naik ke atas dan pergi ke balkon. Memandangi langit sunyi yang tak berpenghuni, namun tetap terlihat indah dengan hiasan hiasan bercahaya yang disebut bintang. Aku memalingkan muka ke sudut yang lainnya.
Ada bulan! Wah, beruntung sekali menjadi bulan. Bisa mendapatkan sedikit cahaya dari tuan matahari yang gagah nan hebat itu. Andai aku seberuntung dia –bulan—pasti aku akan selalu bersinar siang dan malam, untuk membuat orang-orang tercintaku bahagia.
Udara begitu menusuk saat aku memutuskan untuk masuk ke dalam dan menikmati secangkir teh panas, yang dulu sering ibu buatkan untuk ayah. rasanya seperti nostalgia. Tak seburuk kemarin, hal ini tak menyebabkan air mataku berlinang. Sedikit lebih asik dari sebelum sebelumnya. Apa mungkin karena Angga?? Entahlah, karena apapun itu aku menikmatinya.
***
“Inilah dia …
Kisah baru Tuan Matahari dan Putri Bulannya.
Kisah indah di Negeri awang-awang yang terasa sangat nyata. Baru akan dimulai ..
Maka duduklah disampingku dan mari kita dengarkan kelanjutan kisah mereka”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar