Kamis, 08 April 2010

XIV. UNTAIAN KATA AYAH

Mengingat semua tentang ibu dan kisah-kisahnya cukup membuatku lelah dan ingin lekas berhenti. Sesungguhnya aku bangga mempunyai ayah seperti itu, seorang ayah yang tak menganggap cinta adalah sesuatu yang patut dihindari mengingat kisah pahitnya mengenai cinta. Ayah memang seorang pria dewasa yang mampu membuatku menatapnya tanpa berkedip sekalipun saat melihatnya bertutur kata, saat melihatnya tersenyum. Itulah cinta menurutku. Cinta itu tutur kata, cinta itu senyuman, cinta itu ayah.
Mungkin semua orang mempertanyakan sikap ayah setelah ditinggal ibu, tapi. Perlu di ketahui, ayah adalah manusia biasa, ia pernah masuk kedalam sumur maksiat saat aku SMP, bukannya aku tak tau. Aku hanya mencoba memberitahukannya dengan tingkah laku yang seakan tak nyaman.

Ayah membuatku mengerti bahwa aku tak harus menghindari cinta. Jalani saja semuanya, dengan tenang, dengan senyuman. Karena cinta itu bukanlah suatu kesempurnaan, melainkan kelengkapan. Dengan cinta bukan berarti aku menjadi sempurna, tapi hidupku menjadi jauh lebih lengkap. Tutur ayah suatu pagi dengan sinar matahari yang melahap habis wajah tampannya.
Ia segalanya sekarang, bahkan nanti. Aku ingin semua itu tak akan berubah. Begitu juga dengan kakakku yang tumbuh selayaknya kakak. Entahlah! Kehidupanku saat ini jauh lebih ringan, rasanya, seperti melepaskan tubuh di padang rumput yang luas dengan aroma khas musim panan yang menyegarkan, dan meyenangkan.

***


Hari berikutnya, selepas pulang sekolah aku mewujudkan semuanya. Aku pergi ke padang rumput dekat peternakan dengan senyum yang mengembang disana-sini. Orang orang yang melihatku saja mungkin heran, mengapa ada anak remaja yang berjalan sendiri dengan sangat gembira seperti tak ada beban.
Duduk dengan anggota badan yang kurasa lengkap, dibawah matahari siang yang menurut sebagian orang tidak menyenangkan. Apalagi untuk ukuran remaja wanita seumuranku yang selalu menjaga kulit mereka agar tetap putih. Itu bukan segalanya bagiku. Bersimpuh di atas sesuatu yang kita sebut rumput. Dikelilingi ciptaan yang Maha. Aku tersenyum dengan mata yang terpejam. Aku merasa ingin terbang.
Segalanya tentang ayah, yang saat ini berputar di kepalaku. Dengan samar wajah ayah muncul di lamunan yang tak bertepi. Aku merasa ia dekat. Sangat dekat, hingga aku tak dapat menatapnya dengan kedua mata yang terbuka. Ayah masih ada, disini… didunia ini. menemaniku dengan sabar, dan senyuman yang rasanya tak pernah habis ditelan waktu. Aku merasakannya sekarang. Merasakan kasih sayang tertulus sepanjang masa. Cinta dan pengorbanan seorang ayah yang tetap menjaga anak-anaknya dengan baik sampai titik darah penghabisan menurutku.


***


Tetes demi tetes keringat jatuh begitu saja di tubuh ayah. Seorang dengan balutan luka yang tak nampak itu berjalan menuju ke arahku, menggenggam beberapa lembar kertas yang menurutku penting baginya. “Kau tamak lelah, ayah?” tanyaku sambil mengintip dari balik buku yang sedari tadi menemaniku disini. “Menurutmu?” sekarang ia balik bertanya dengan tatapan yang nyaris membuatku ingin kabur. “Ia . . . istirahatlah walau hanya sejenak, ayah, kau sudah terlalu memaksakan tubuh yang kini sudah semakin tua itu.” Kini buku itu benar-benar tertutup “Oh,…. ayolah Ai. Aku ini masih muda, kuat, cerdas, tampan …. Heh? Ia kan?” ayah benar-benar aneh, mungkin memang butuh banyak istirahat. “Hey, ayah. Kau tak semuda saat ibu meninggalkanmu kan???” sungguh pertanyaan terbodoh yang terlontar begitu saja dari bibirku tanpa seleksi awal. Uuuuhh …. Aku menyesal sekarang! “Hmmmmm … tidak juga, aku memang tak semuda dulu, tapi pesonaku tak kan pernah padam. Apalagi bila ada gadis manis yang menemaniku minum teh saat ini .. Maukah?” senyum ayah sama sekali tidak membuatku tenang, aku masih sangat merasa bersalah. Tapi, toh semuanya telah berlalu ayah juga baik baik saja. “Tentunya, untuk pria yang masih muda dan bersemangat ini.!” aku berlari kearah ayah dengan senyum yang tentu saja manis… ayah bilang.!

Sungguh malam yang panjang,
Aku dan ayah sedang asik mengobrol sambil menunggu ka’Bima pulang. Hari yang membuatku sadar bahwa tak sepatutnya aku bersedih dan terpuruk oleh IBU,. Masih banyak yang seharusnya membuatku tertawa di luar sana.
“Ayah tak perlu sekeras itu bekerja.” Sahutku mengawali pembicaraan yang tadi terputus karena ayah harus ke kamar kecil. “Memangnya kenapa? Kau tak suka? Apa ayah kurang memberikanmu sesuatu?” pertanyaan yang menurut ku terlalu banyak bila harus dijawab bersamaan. “Tidak. Aku hanya ingin ayah lebih banyak meluangkan waktu untuk diri ayah sendiri. Ayah … sudah cukup semua ini. aku tak ingin melihat ayah tertidur dengan kantung mata dan raut wajah yang tidak wajar. Aku hanya ingin ayah merasakan bersenang-senang bersama teman. Memang bukan hura-hura. Tapi, yang biasa saja. Ngobrol misalnya. Itu tak pernah lagi terlihat sekarang.” Tatapan mataku seakan mencerminkan keletihan ayah selama ini. “Ayah tau. Mungkin memang benar.. terima kasih telah mengingatkan aku pada suatu hal yang di sebut senang. Tapi, melihatmu dan Bima tersenyum menatapku saja sudah merupakan hiburan tersendiri bagiku.” Ayah membalas semua kata-kata ku tadi dengan tenang tanpa beban, juga senyum yang ia pamerkan pada ku yang setia menemaninya sepulang kerja.

***

“Yang kubutuhkan bukan sekedar uang. Uang memang penting namun bukanlah segalanya, walau memang segalanya membutuhkan uang dalam kehidupan ekonomi keluarga. Tapi sesungguhnya bukan uang, melainkan kasih sayang.
Dan aku percaya kau akan memberikannya padaku selalu –ayah—”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

All Content