Kamis, 08 April 2010

VIII. ALIA PUTRI NABILA

Setelah lelah berjalan-jalan dengan rio, aku pulang. Sesampainya di rumah .. “ada mobil ka’Bima!! Ada apa ya?? Tumben mereka datang sore-sore begini” akupun masuk ke dalam rumah bersama hawa-hawa penasaran yang menghantui.
“Ka’bima??” sahutku biasa .. dan kemudian kaget karena melihat wajah dan tubuhnya yang kelihatan lemah. “hai Aii” balasnya dengan nada lemas yang mengganguku. “ayo masuk” .. kamipun masuk ke dalam rumah. Aku membiarkan ia melepas lehahnya beberapa saat sedangkan aku menyiapkan minuman. “Ada apa kesini , tumben sekali??” tanyaku langsung ke tujuan, tanpa basa basi lagi “Aii,, aku ingin bicara serius denganmu. Ini masalah kakak mu .. K’Alia, ia sakit. Dan sekarang sedang tergolek lemah di rumah sakit. “ jawabnya panjang lebar. “A .. a p a?? kenapa bisa begitu??” sambungku dengan terbata bata. “ia sedang bersenang-senang kala itu, dengan seluruh teman-temannya. Ia mengendarai mobilnya, kemudian hilang kendali dan menabrak mobil yang lain tepat di depannya. Ia banyak kehilangan darah ,, sehingga tak sadarkan diri. Sekarang ia koma, sebelumnya ia ingin kau datang menemuinya disana. Aku dan ayah juga bingung harus berkata apa lagi padamu.” Jelasnya .
Aku masih sempat memikirkan apa yang terjadi pada kakak ku tercinta yang sering membuatku kesal bukan kepalang. Namun, dadaku berdetak tak karuan saat ini. Aku merasa gugup seperti mau di sidang atas apa yang terjadi pada ka’Alia.

***

Setelah percakapan sore itu , aku dan ka’bima langsung menuju rumah sakit malamnya. Sesampainya disana. . .
“apa ?? apa ini ..?? mengapa banyak sekali orang disini?? Apa yang sebenarnya terjadi disini??!! Mengapa ada orang – orang menangis!!”

Tiba-tiba dari arah dalam keluarlah ayah. Ia melihatku dan langsung merangkulku ke dalam pelukannya. Aku kaget, karena aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi disini. Kemudian ayah melepaskan rangkulannya, dan mulai menjelaskan sesuatu padaku.
“Aii .. kakakmu .. Alia .. ia kecelakaan. Ia ingin sekali bertemu denganmu. Tapi .. “ perkataan ayah terhenti sejenak, aku melirik kearah k’Bima.. ia juga sedang menunggu lanjutan kalimat itu. “ Tapi ia pergi sebelum kau datang … “ nada ayah buyar .. air mata yang dari tadi tertahan kini tumpah ruah. “ apa maksudnya?? Mengapa aku tak bisa bertemu k’alia?? Mengapa ia meninggalkan aku sendiri .. tanpa sepatah katapun dari bibirnya?? “ batinku dengan mata yang memerah, K’bima tak sanggup menahan tangisnya saat kami bertiga memasuki ruangan , dimana tubuh k’Alia terbujur kaku .

K’bima dan ayah menjauh.. tak kuat menahan rasa sedih mereka. Tapi aku tidak .. aku mendekat dan menggenggam tangannya. Dingin rasanya .. “ ka’ .. kenapa?? Kenapa kau meninggalkan aku tanpa sedikit senyum manismu?? Kenapa begitu cepat ..!!?? jawab aku ka .. “ air mata tumpah di wajahku tanpa ku sadari .. aku sedih , melihat kakak ku tak bernyawa lagi “ tanganmu dingin, apa perlu ku selimuti? Kau kedinginan! Ayolah .. jawab aku!! Aku sangat merindukanmu, aku juga menyayangimu .. kau harus tau itu !” aku terus bicara pada tubuh tak bernyawa itu, aku tak percaya dia telah pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya.
Ayah menarikku menjauh dari jasad ka’Alia yang membeku oleh waktu. Aku berjalan keluar untuk menenangkan diri sambil mencari udara segar.

Kau jahat! Mengapa meninggalkan aku seperti ini? Ku mohon izinkan sekali saja aku melihat senyum manisnya. Izinkan aku memeluk tubuh hangatnya itu. Aku sangat menyayanginya. Sama seperti rasa sayangku pada ibu. Aku tau … aku bukanlah adik yang baik untuk kakak. Tapi, MENGAPA?? Mengapa kau harus pergi begitu cepat.. ??? belum sempat aku melihat kau tertawa bersamaku, belum sempat aku melihat kau lulus, belum sempat aku melihatmu menikah?? Semua itu memang hal sepele untuk sebagian orang .. tapi bagiku tidak. Semua itu penting! Sangat penting semenjak Ibu meninggalkan aku.

***

Aku terus berjalan di lorong-lorong rumah sakit yang kini mulai terang oleh lampu. Aku berhenti di halaman .. atau mungkin lebih tepatnya taman rumah sakit. Aku duduk di salah satu bangku kayu yang kelihatannya sudah tua, sambil memandang langit … sepertinya tak ada kata-kata lagi yang patut keluar dari mulutku, aku lemah, tak berdaya. Aku hanya ingin tidur saat ini. Sudah jam 10 lewat saat ini, tapi malam terasa sangat panjang dengan kepergian K’Alia. Kupejamkan mata dengan hati-hati, kubayangkan kakakku ada dan sedang berdiri dihadapanku, menatapku dengan sedikit senyum yang menggoda. Dengan gaun manis yang sangat anggun.
Saat sedang asik meratapi kehidupan ini, aku dikagetkan dengan suara berat dari seberang yang sepertinya ku kenal. Angga??? .. Ia, yang memanggilku itu angga. “Sedang apa disini?” tanyanya memulai pembicaraan. “hhm, kakakku sakit” jawabku masih dengan nada ragu , karena heran sedang apa dia disini . “Kau??” sahutku lagi. “Aku??” balasnya memastikan. “IIa kau.? Sedang apa disini?” tanyaku perjelas. “ Oh aku, . aku sedang berobat” Apa?? Berobat ?? disini?? Memangnya sakit apa dia?? Aku membatin .” oo .. Sakit apa ?? kalau aku boleh tau.” Sambungku. “tentu boleh. Aku mengalami kecelakaan dua hari lalu, lukanya agak parah. Kedua kakiku patah,.., dan luka-luka lain.” Jawabnya dengan santai .” santai sekali dia .. padahal itu pasti bukan kecelakaan ringan. Kenapa dia tidak terlihat takut sedikitpun?? “ .. “Kecelakaan apa? Lalu bagaimana kaki mu??” tanyaku dengan nada agak panik . “hahahahah.. sudahlah tak usah membahas persoalan kecelakaan itu. Dokter bilang aku tidak bisa lagi berjalan. Sedih memang. Mengingat aku sangat suka olahraga, tapi mau bagaimana lagi. Kalau memang takdir pasti sembuh sendiri.” Wow .. .hebat .. dia orang yang besar hati. Ku kira orang semacam itu sudah punah.. aku kagum padanya.

Malam sudah sangat larut, ketika aku memutuskan kembali ke kamar k’Alia dan Angga pergi ke kamarnya untuk istirahat. Masih menyusuri lorong-lorong kecil itu, udara terasa sangat dingin, sampai menusuk ke relung hati yang terdalam. Di tambah lagi dengan keadaanku yang tidak normal saat ini. Hati ku lebih tenang setelah berbincang dengan Angga. Bagaimana kalau aku yang jadi dia, huh! Tak terbayangkan!!

Ku buka pintu dengan sangat hati-hati. Tubuh ka’Alia sudah tidak ada, mungkin sudah dibawa ke kamar mayat. Yang ku tau besok acara penguburannya, karena hari ini cuara tak baik. Upss.. aku salah, ternyata ada orang. K’Bima?? Sedang apa dia disini?? Ku lihat lebih dekat wajahnya yang letih. Ooohh . sedang tidur .. ku kira apa .. mungkin sebaiknya ku juga tidur. Malam yang panjang. Aku , ayah, da ka’Bima tidur di kamar “bekas” ka’Alia terbaring.

***
Tak terasa pagi begitu cepat menjemput. Aku masih tertidur lelap sampai seseorang menggoyangkan tubuhku pertanda aku harus segera bangun. Dengan pengelihatan yang sedikit kabur dan tubuh yang lemas aku merangkak turun dari sofa. Ku tatap wajah semua orang di ruangan itu, tiba-tiba .. . ayah mendorong ku masuk ke kamar mandi. Sambil sedikit berteriak “ Aii ..!! cepat mandi. Kami hanya tinggal menunggumu. “
Matahari sudah menampakan diri saat aku dan seluruh keluarga mengantarkan ka’Alia ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dunia terasa begitu cepat berputar, tetes demi tetes air mata jatuh dari mata setiap orang yang datang.
Kecuali aku, aku hanya terdiam tanpa sedikit kata pun dari mulutku. Aku hanya berfikir saat ini. “untuk apa aku menangisi sesuatu yang tak akan kembali?.. bukankah semua hanya akan melelahkan?! Aku sudah merelakannya pergi, jadi pergilah .. pergi tinggalkan dunia ini.” ka’Bima melihatku hanya bengong dengan mata sayu. “Ada apa?” sahut ka’Bima, yang segera membuyarkan lamunanku. “eh .. apa?? Tidak ada .. aku hanya ..” jawabku agak terbata-bata karena kaget., “hanya apa? Sedihkah ??? “ .. “tidak”

***

Terik datang, harupun menghilang..
Aku dan keluarga sudah sampai dirumah “hhmm . . mungkin lebih tepatnya rumah ayahku.. karena aku tak menetap lagi disini”

Tak ada penyesalan yang tersisa di hatiku saat ini. aku sudah rela dengan alur kehidupanku yang berlika liku ini, aku bisa apa?? Tersadar dari lamunanku .. ka’Bima sudah berdiri dengan memegang secarik kertas .. “ Untukmu aii .. dari kakakmu .. maaf aku baru memberikan sekarang” tak lama setelah ka’Bima bicara surat itu sudah ada di tanganku dan ka’Bima melenggang pergi dari tempatnya semula.

Untuk , Haiira Putri Amanda,
Dimanapun kau berada . . .

Maaf aku tak bisa menyiapkan sarapan setiap paginya. Maaf aku tak bisa mendengarkan cerita-cerita menyenangkanmu saat remaja. Maaf aku tak bisa jadi kakak , saudara, teman, bahkan IBU untukmu. Maaf aku tak sempat mengucapkan selamat ulang tahun atau hanya sekedar sapaan yang mungkin penting bagimu .“aku sayang padamu”. Aku senang kau adalah adik ku .. adik terbaikku. Jujur aku iri melihatmu, iri melihat kebahagiaan yang aku sendiripun tau itu hanya sekedar tipu daya, aku iri melihat wajahmu yang cantik jelita persis seperti ibu, aku iri .. karena aku tak bisa menjadi seperti itu.
“Haiira Putri Amanda” nama yang indah bukan. ?? asal kau tau saja, saat ayah dan ibu memberikan nama mu itu , aku sangat berharap bahwa aku adalah dirimu,. Kau sangat beruntung, mendapatkan nama seindah itu.
Aku sangat ingin mendengarkan kau bercerita tentang pacarmu saat di sekolah. Aku ingin kau benar-benar memanggilku Kakak . . . aku ingin sekali memelukmu, menatap wajah indah nan syahdu itu.
Maaf kalau aku tak sempat mengucapkan sepatah-dua patah kata padamu. Tapi yang harus kau tau hanyalah “Aku Mencintai mu . . . . “

Mungkin kau tak akan pernah tau aku masih akan ada atau tidak, bahkan akupun tak tau. karena itu aku memintamu untuk selalu tersenyum jika mengingatku . . .
Love.
Alia Putri Nabila


Aku tersenyum dalam tangisanku saat membacanya,
“aku juga sayang dan cinta padamu ka’. . .”
Mungkin hanya kalimat itulah yang penting saat ini.
Tulisan yang sejak dulu aku impikan, aku sangat menyukai tulisan ka’Alia. Indah .. rapih .. dan membuat pembaca senang.

Ka’Bima pernah mengatakan bahwa ka’Alia sempat dirawat sehari sebelum ia ‘’pergi’’. Dan mungkin ia menulis surat saat itu, hanya perkiraanku. Aku sedikit lega karena kini aku tau, kalau kakak perempuanku tidak membenciku. Ia hanya mencoba melarikan diri dari dirinya sendiri yang tak pernah lepas dari bayang-bayang ibu,aku tau .. ka’Alia lah yang paling terluka atas kepergian ibu. Ia sudah agak besar saat itu, walau aku juga terluka tapi , ialah yang merasakan sayatan pisau kekejaman ibu. Karena itulah ia bersikap dingin pada semua orang yang mengingatkannya pada sosok ibu.
Rasa rindu sangat terasa di suasana yang seperti ini. dingin dengan rintik-rintik hujan yang membasahi bumi seakan turut berduka atas kepergian ka’Alia. Aku tersenyum melihatnya, aku senang .. karena mungkin memang lebih baik ia ‘disana’. Aku memalingkan muka dari jalan yang kini basah oleh air hujan.

***

Aku duduk disana.. teringat masa-masa SMP dulu., disinilah aku menangis, marah, senang dan lain sebaginya .. tanpa siapapun yang mau mengetuk pintu kamarku. Semua fikiran dan khayalku buyar saat ka’Bima berteriak memanggilku dari bawah.

RIO?? Mau apa dia kesini??..
Dengan tampang yang memuakan ia berjalan ke arahku, rasanya aku baru turun tangga,, mengapa ia sudah di hadapanku, cepat sekali. “Mau apa kau?” tanyaku langsung ke pokok perkara. “Ah, tidak .. ku dengar ka’Alia . . . sudah pergi. Aku datang hanya untuk menghibur.” Jawabnya dengan tampang yang mencurigakan, senyum yang manis dan gerak tubuh yang mungkin sedap dipandang. “Oh!” sahutku. “Hanya ‘oh’ kah yang ada di fikiranmu saat ini. atau kau terlalu terpukul dengan kepergian kakakmu… ?? Hmmm ..,, bolehkah sekarang kita duduk?” .. “oh iiah .. silahkan duduk dimanapun kau suka”.
Entah .. sejak kapan tepatnya aku mulai tak ‘suka’ pada RIO. Awal pertemuan kami setelah sekian lama biasa saja, tapi mengapa sekarang aku jadi seperti ini??
“Kedatanganmu ini???” mulai ku “Untuk menemui sahabatku?” jawabnya enteng. “ aku hanya teringat masa lalu yang membawaku kembali ke rumah ini, menemuimu”. Dan . . . . . . seterusnya .. kami berbincang .. . . . . . ..

dalam suasana yang serba masa lalu ini, aku sedikit tertarik padanya,. Ia jauh berubah dari yang dulu. Ia lebih terbuka dan yah mungkin baik. Tapi tak mengurangi image ‘cool’nya .. hehehehehehe . . .
Tak terasa hari sudah petang, jadi rio pun juga sudah pulang.

Aku sendiri lagi . .. . . . .huft ---

***

“Salah satu yang terindah adalah dirimu,.. kau yang ada bahkan sebelum aku ada. Entah mengapa kau yang pertama pergi.
Ingin rasanya memutar kembali waktu yang telah terbuang dan sia-sia. Tapi, semua tak akan kembali hanya demi adik kakak yang saling merindukan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

All Content