Masa mulai berganti, begitupun dengan aku .. .. ..
Tak terasa aku sudah memasuki fase baru dalam hidupku. Aku mulai beranjak remaja, masa-masa remajaku di smp kala itu, sama saja. Hanya saja aku mengalami peningkatan perilaku , pribadi ku mulai terpahat saat aku memasuki lingkungan yang tidak hanya memperdulikan diri mereka sendiri. Masih tegas dan tegar ,, kasarnya juga masih ada .. tapi tidak seburuk saat kecil dulu.
Aku mulai suka bersosialisasi, kini aku tahu apa itu teman dan bagaimana mereka saling mengasihi. Aku punya banyak teman di sekolah baruku itu, karena aku mulai membuka diri. Aku dikenal sebagai gadis manis yang pendiam . aku juga suka sekolah, bahkan aku malas pulang ke rumah. Aku banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, atau bersama teman-teman.
***
Disinilah dunia kapuk baruku dimulai, .. ..
Kalau dulu khayalanku hanya sebatas tentang keluarga atau teman-teman. Sekarang lain lagi
Aku mulai mengenal apa itu cinta, walau definisi tepatnya pun aku masih meraba-raba.
Cinta itu keluarga. Cinta itu sahabat. Dan ada satu lagi yang aku kurang pahami . “Cinta itu Cinta”.
“Hey! Jangan melamun terus Aii.” Suara Kay memecah lamunanku yang tertuju pada satu objek indah –menurutku--. “Aku … Aku tak melamun, hanya .. sedang ..” jawabku terbata-bata. “Ah, sudahlah! Jangan banyak omong kalau tak mau dihukum berdiri di atas bangku sampai pulang.”. “Kay!” sapaku pelan. “Ia, apa lagi?” jawabnya dengan sedikit rona merah diwajahnya. “Aku .. hmm, tidak tidak … tidak jadi .. heheheh” sahutku lagi , sebenarnya saat itu aku baru saja mau bilang kalau aku mengangumi seseorang di hadapanku. Ceritanya aku baru akan membuka diriku lebih dalam untuk Kay. Tapi, ku putuskan untuk diam dan menuruti kata-kata Kay.
Catatan: --menurutku ini penting--. :
Kay .. ia adalah sahabatku. Sahabat yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Ia satu-satunya orang yang tersenyum melihat aku dengan tenang. Aku suka dia .. dia yang cantik dan mempesona, dia yang menawan hati para remaja, dia yang baik tiada tara.
Andaikan, aku bisa menjadi seperti dia ..
Mungkin aku tak akan menjadi seburuk ini.
Aku menulisnya di buku catatan kecil yang diberikan Kay untukku kala itu. Aku hanya berfikir bahwa Kay dan aku akan selalu bersama sebagai sahabat yang tak akan goyah dengan ombak yang besar sekalipun.
***
Masih teringat jelass di fikiranku,, sosok seorang lelaki yang selalu bisa membuat degub kencang di hatiku. Sosok dingin yang selalu bisa membuat hatiku membeku hingga tak melihat yang lain. Semua itu bagai film yang terputar kembali di mataku.
Itulah dia, seseorang yang baru saja ingin aku ceritakan pada Kay, namun, masih saja tertunda oleh waktu. Dan aku percaya bahwa suatu hari aku bisa menceritakannya. Tentang seseorang yang aku kagumi.
Lelaki itu bernama Rio , panjangnya Rio Kusuma Wijaya.
Rio bukan orang yang ramah pada setiap orang . ia dingin dan tampak galak. Tapi bagiku ia sempurna. Aku satu kelas dengannya , ia duduk tepat didepanku . jadi setiap hari aku selalu senang sekolah karena setiap hari juga aku bisa memandanginya .
Sebenarnya ia bukan orang baru dalam kehidupanku. Tapi entah mengapa. Dulu ia begitu tenggelam dan tak terlihat , aku hampir tak mengenalnya dulu.
Semua perasaanku tumbuh seiring waktu yang selalu mempertemukan kami. Aku mulai sadar, aku menyukainya saat kami mulai berteman. Aku menyimpan harapan yang sangat besar pada dirinya. Aku berharap dialah orang yang bisa menghapus rasa perih yang menggerogoti batinku.
Tapi …
Cintaku bukanlah cinta yang indah. Apa yang kurasakan ternyata tak ada gunanya.
Ia tak pernah menyambut cintaku. Aku tahu tak semestinya aku mengharapkan hal yang tidak sepatutnya ku harap padanya. Aku mulai bisa menerima keadaan ini , keadaan dimana aku tak bisa beranjak pergi dari rasa yang tak terbalas ini.
Tahun pertama sampai kedua tak pernah ada sesuatu yang membuatku bahagia . tapi ia terus menempati tempat sebagai tokoh utama dalam dunia kapukku. Aku selalu memikirkan hal-hal yang indah tentang aku dan dia .. walau itu hanya sekedar buayan dalam dunia kapukku.
Sampai di tahun terakhir aku di smp
Di tahun itu jugalah aku mengetahui sesuatu yang selalu membuat hatiku sakit bagai dicambuk. Ada seorang anak perempua yang cantik jelita dan sempurna mengatakan sesuatu pada ku .
Namanya Kayla Fitriani, yang sering di sapa kay yang tak lain adalah sahabatku. Suatu hari kay bercerita pada ku bahwa ia menyukai seseorang di kelas itu.
“Aii. Ada yang ingin aku beritahu padamu” Kay membuka pembicaraan pagi itu dengan sangat baik. “Ia, aku juga ada. Akan ku ceritakan tentang sesuatu. Hmmm, tapi .. kau duluan saja!” tawarku pada Kay yang memang lebih awal. “Tidak. Kau saja yang duluan ..” ia terlihat cantik dengan wajahnya yang malu. “Kau saja .. nanti baru aku.” sambungku ingin cepat mendengar cerita Kay.
“Begini Aii, sebenarnya .. aku suka pada …. ..
Aku hanya memasang muka bahagia paksaan yang diringi dengan rasa heran. “Kay sahabat karibku menyukai orang yang selama ini aku cinta?? Rio??? “ kataku membatin. Aku hanya diam tanpa sedikitpun kata yang terlontar dari bibir mungilku.
Dan yang paling membuat aku terkejut adalah kata-kata terakhirnya. “ Aii, kaukan dekat dengan rio, tolong aku iia .. .. supaya aku bisa lebih dekat dengannya!! Tolonglah aii .. .. “ kata-kata melas yang keluar dari mulutnya kala itu.
Aku katakan padanya agar diberi waktu untuk berfikir …
Semua tak berhenti di situ. Ia ingat bahwa aku juga ingin mengatakan sesuatu.
“Jadi Aii? Siapa yang kau kagumi itu??” Tanya dia penasaran. Tapi, aku tak menjawab.. hanya diam dengan kepala yang mengeleng.
Setelah beberapa hari berfikir akhirnya ku iiakan permintaannya itu.
Aku mulai mendekatkan mereka berdua walau sungguh hati ku sakit. Aku bagaikan obat nyamuk yang selalu setia menemani mereka berdua, karena kay tidak mau di tinggal. Fikiran ku saat itu hanyalah mereka. “apa mereka tidak berfikir tentang aku??” pertanyaan yang selalu singgah di fikiranku.
Mereka mulai dekat ,, sangat dekat . hingga menjalin hubungan. Aku tertawa .. entah mengapa saat kay bilang tentang mereka berdua, mungkin aku gila .. mengorbankan apa yang aku suka pada sahabatku. Tapi itu lah yang ku lakukan.
Aku hanya berfikir , untuk apa aku mempertahankan apa yang bukan miliku. Toh rio tidak akan menyambut cintaku . dan aku jamin rio tidak akan pernah sadar bahwa aku sangat mengaguminya.
***
Mereka berdua makin dekat .. hingga tak terpisahkan lagi. Aku mulai merelakan perasaanku pada rio. Tapi disaat aku mulai menjauhinya ia malah makin akrab denganku .. .
Entah untuk menyindir atau apa . aku hanya berfikir ini adalah hal tidak wajar untukku dan rio. Aku duduk dengan rio saat itu , tak ada rasa apa pun saat aku berdekatan dengannya , bukan karena aku tidak menyukainnya lagi melainkan karena aku menutup rapat rapat pintu hatiku untuk orang bernama rio yang tak lain adalah kekasih sahabatku .
***
“Telah ku tutup pintu itu rapat-rapat agar tak ada yang bisa masuk dan menggangguku lagi. Saat dimana kehancuranku mulai terlihat. Aku ingin berlari .. namun, tak bisa. Sesal menggerogoti hatiku.
Rasa yang ku anggap indah ternyata tak seperti yang ku bayangkan. Entah sampai kapan aku berlari. Tapi, akan ku pastikan tak ada dia lagi …”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar