Rabu, 14 April 2010

XVIII. SESUATU YANG KU SEBUT “AWAL”

Apa yang semua orang fikirkan tentang awal?. Apa itu merupakan sesuatu yang berada di depan?? Menurutku tidak …
Awal adalah sesuatu yang berada di garis dimana kita akan memulai. Memulai sesuatu yang baru dalam kehidupan yang baru. Dan itulah yang baru akan aku mulai saat ini. Awal yang baru dengan sesuatu yang indah.
Semua yang ada di dalam kehidupanku saat ini memang baru, dan artinya aku belum terlalu terbiasa dengan semuanya. Tapi, mari aku ceritakan sedikit tentang kisah baruku …..


***

Pertama …
08 Agustus, 2009

Sebulan setelah fase mengharukan tentang kerinduan akan Angga, aku mulai masuk sekolah baruku. Hmmm,, bukan bukan. .. tapi, kampus baruku. Aku sengaja mengambil kampus negeri yang lumayan terkenal di kota ini. Kampusku memang berbeda, dan karena itulah aku menyukainya. Apa yang kusebut dengan berbeda adalah sesuatu yang terjadi di setiap jurusannya.
Di setiap jurusan punya cirri masing-masing yang tak akan sama dengan jurusan lainnya. Dari penampilan, cara bersosialisasi, cara bertutur kata, dan semuanya.tapi, semua itu tak membuat kampus hancur. Karena kami menghargai satu-sama lain. Aku masuk dalam wilayah yang tak begitu aneh menurut orang banyak. Hanya saja kebanyakan menganggap kami itu, terlalu ‘diam’ .. kau tau, jurusan sastra lah yang bisa membuat kampus damai tenang dan tentram.
Tak banyak yang bisa aku ceritakan tentang lingkungan baruku, aku hanya merasa seperti orang baru dalam hidupku. Menjadi individu yang mampu tersenyum walau ‘Dian’ dan ‘Angga’ tak ada.

“Aku baru disini, dan aku fikir ini hanya sebagian kecil tentang lingkungan baruku yang akan berkembang suatu saat nanti.”


Kemudian …
24 Agustus, 2009

Dian .. dia masuk universitas berbeda denganku. Dengan jurusan berbeda pula, ia mengambil komunikasi. Yang aku dengar ia sedang asik dengan kekasih barunya. Aku pernah dikenalkan waktu itu. Ku fikir dia orang yang baik dan sepadan dengan Dian.
Angga, dalam kehidupannya mulai pudar. Mungkin tertutup seseorang yang ada dihatinya sekarang ini. Kisah persahabatan kami tidak putus sampai disitu. Aku dan Dian makin akrab saat kuliah. Mungkinkah karena kami tepisah?? Ya..mungkin. tapi, apapun alasannya. Aku dan Dian akan selalu bersama, juga dengan bayangan Angga yang masih tersisa.

“Intinya, …
Dian tak pernah lupa bahwa aku adalah sahabatnya,
Aku tak pernah lupa bahwa Dian adalah sahabatku,
Dan .. kami tak’akan pernah lupa bahwa Angga adalah bagian dari sahabat.”



Selanjutnya …
10 Oktober, 2009

Ka’Bima dan ka’Naya menikah …
Heheheheh* senangnya …..
Aku melihat mereka tampak sangat bahagia. Begitu juga dengan ayah, raut-raut tua di wajahnya dulu, sekarang seperti menghilang. Aku berdampingan dengan ayah. Terpancar jelas kebahagiaan itu. Acara yang menyenangkan di hari penuh makna ini.
Ka’Naya tersenyum padaku sekilas sebelum mereka duduk bersimpuh di atas karpet di masjid itu dengan tangan ka’Bima yang disodorkannya kepada wali sambil mengucap ijab kobul. Sungguh suasana yang membuat masjid banjir dengan tetes demi tetes yang tumpah dari semua orang termasuk aku dan ayah.
Ka’Naya mencium tangan ka’Bima …
Mereka tampak serasi di balut baju nan indah berwarna coklat kulit.

Itulah saat-saat dimana aku tak bisa melupakan mereka semua …

“Terima kasih telah mengisi kekosongan fikiranku tentang keluarga. Kalian yang terbaik! Keluarga yang benar-benar aku inginkan hanyalah kalian …
Khusus, buat ayah .. jangan terlalu keras berkerja. Jaga kesehatanmu. Aku akan segera menangis bila mendengar kau tergolek lemah di RS. Dan ka’Bima .. Salamku untuk ka’Naya!”




Setelah itu …
16 Oktober, 2009

Spesial terkasih untuk Ibu ..
“Aku selalu mencintaimu …”

Spesial cinta untuk ka’Alia ..
“Semoga kau baik disana. Aku selalu tersenyum untukmu ..!!”



Lalu …
18 November, 2009

Hari ini .. aku tau sesuatu yang membuat aku tertunduk setiap mengingatnya,
Ternyata Angga tak datang saat itu, saat dimana aku sangat ingin menemuinya namun terhalang oleh makhluk aneh bernama Rio. Tak pernah! Ia tak pernah datang ke tempat itu lagi, entahlah tapi, itu membuatku merasa kesepian.
Dan aku baru saja tersadar bahwa hari itu adalah hari terakhir aku menatap matanya, aku mengucap kata demi kata padanya.
Selama ini, Angga tak pernah marah atau kecewa padaku atau Dian. Dan aku merasa malu karena telah menuduhnya macam-macam. Semua yang aku fikirkan tidak benar-benar terjadi. Aku sedih karena itu.. karena aku telah berfikir akan apa yang buruk tentang Angga.
Angga, seorang yang mengisi kertas-kertas kosong tentang cinta dalam hidupku. Walau aku tak akan pernah bisa menemuimu lagi .. aku akan terus mengingatmu dengan cinta yang selalu kau berikan untukku. Walau aku tak bisa lagi menyentuhmu .. aku akan terus menjaga cintamu dalam siang dan malam.
Bersama Tuan matahari dan Putri bulannya ….


“Angga …
Damailah engkau dalam keheningan. Tersenyumlah engkau dalam kesunyian!
Karena sesungguhnya, Cintamu adalah yang terbaik untukku …
Semoga kau tenang disana…”

***

“Inilah akhir dari kisah Matahari dan Bulannya ..
Indah di dunia yang berbeda, dengan tawa dan canda dalam cinta. …”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

All Content