Kamis, 08 April 2010

VI. “S-A-H-A-B-A-T”

Hari pertama masuk sekolah….

Sungguh hari yang mendebarkan!! Aku gugup dan merasa ingin kabur. Namun, sesuatu yang menyenangkan terjadi hari itu, keadaan sekolah itu berbeda dengan saat di SMP, mereka tidak menganggap remeh padaku, disini juga aku punya sahabat karib .. namanya Dian Permata Zahra, sering ku panggil dian. Ia bukan orang yang lemah lembut. Sikap maupun sifatnya berbeda 100% denganku. Ia lebih kuat dari pada aku.

Dian membantuku dalam segala hal. Ia adalah sahabat, teman, keluarga, bahkan kakak untukku. Umur Dian memang lebih tua satu tahun dariku. Aku senang bisa bersahabat dengannya, ia membuatku kuat. Bukan dengan ceramahan konyol yang biasa dilakukan semua orang . melainkan dengan senyuman. Ia mengajarkan aku banyak hal tentang senyuman. Senyuman itu indah. Senyuman itu tentram. Senyuman itu sahabat. Aku mulai belajar untuk kembali tersenyum seperti dulu kala, tapi masih sangat berat. Entahlah! Aku hanya tak bisa melakukan yang tak ingin ku lakukan. Tapi aku berjanji aku akan tersenyum selebar-lebarnya pada dunia suatu saat nanti, itu janjiku pada Dian.

Kami menjalani bulan demi bulan bersama, dengan canda, tawa dan kegembiraan. Tak banyak perubahan yang terjadi di kehidupan baru ku saat itu. Bahkan untuk urusan “Cinta”. Aku belum berani memberikan atau menerima hati lagi.

Prinsipku saat itu adalah “ kalau kau berani jatuh hati,, kau juga harus berani patah hati” .. prinsip yang gila dian bilang. Iia .. dian tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Dian jauh lebih beruntung dalam segala hal termasuk “Cinta”. “kau gila aii .. membuat prinsip yang seperti itu. Bagiku jatuh hati itu gampang dan tak perlu siap untuk patah hati, hingga sulit mempercayai hati pada orang lain” ungkap dian dengan nada mengejek dan sedikit tawa yang sepertinya menggelitik. “ itukan bagimu” jawabku singkat, tak mau berdebat tentang prinsip itu.

Semua tentang kehidupanku saat itu sungguh menyenangkan. Tak ada beban rasanya, walau pelajaran di SMA lebih sulit dari pada di SMP. Tak banyak cerita mengharu biru di sana, karena dari sanalah aku belajar menghargai diri sendiri. Aku hampir tak punya musuh saat itu, karena aku lebih suka menutup diri dari lingkungan sekitar .. mungkin karena trauma..

***


Putra Angga Irawan. Nama yang asing bukan?? Aku juga tak mengenalnya dekat. Yang ku tau, ia adalah teman satu sekolahku, tak satu kelas memang,,, tapi ia cukup dekat dengan dian. Karena itulah aku mau tak mau mengenalnya. Angga adalah tipe orang yang berbeda dengan Rio. Ia lebih santai dan ramah.,, tercermin jelas bahwa ia baik . semua terlihat dari raut-raut di wajahnya.
Belakangan aku tau bahwa Angga menyukaiku, jelasnya dari Dian. Aku senang .. tapi, aku tak bisa menyambut cintanya begitu cepat. Aku masih ragu akan diriku sendiri yang sepertinya belum bisa lepas dari bayang-bayang masa laluku tentang Rio.
“tak apa .. kau tak harus melepaskan bayangan masa lalumu itu!” kata Angga suatu sore, saat pulang mengikuti kegiatan di sekolah. “tapi .. ..” jawabku ragu. “tak apa, sungguh. Aku tak akan pernah memaksakan sesuatu pada orang yang ku cintai. Berjalan lah bersamaku, bersama waktu yang akan membawamu ke masa depan . bukan kembali ke masa lalu.” Jelasnya padaku, sambil memberikan tangannya .. yang seakan mengajakku beranjak dari masa lalu yang membelenggu.
Tak ku pungkiri, aku mulai menyukainya. Menyukai apa yang telah ia berikan padaku. Bukan barang atau kata-kata manis, hanya kehadiran dan kasih sayang, dua hal yang sangat aku butuhkan saat itu. Angga dan Dian.. dua orang yang amat berarti bagiku saat itu. Mereka adalah sahabatku ., sahabat terbaikku sepanjang waktu.

Sejak pembicaraan yang agak panjang antara aku dan angga .. kami jadi dekat, dekat dalam artian “sahabat!! ”
Tak lebih,, aku belum siap untuk beranjak lebih jauh dari sekedar sahabat….

***


“Aku pernah kecewa karena seorang teman,
Dan aku tak inginkan itu terulang lagi. Hanya satu yang kupegang saat itu, ‘Kepercayaan’ itulah yang terpenting bagiku …”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

All Content