Hari yang sangat sangat sangat MELELAHKAN! Gerutuku saat dijalan menuju rumah ayah. Mengapa aku tak pernah bisa bangun pagi??!!! Mengapa harus selalu aku yang kena hukuman dari mereka ……. Huh! Kini harus kerumah ayah, ada apa ya … kok tiba-tiba saja Ka’Bima menyuruku datang. Siang tengah bolong seperti ini lagi. Ocehan dalam hati itu tak berhenti, aku masih terombang ambing di dalam bus, tengah hari itu. Mungkin kalau aku tak bicara didalam hati semua orang sudah menimpuk ku dari tadi.
Suasana bus hari ini tidak jauh berbeda dengan hari hari sebelumnya, dan kini aku harus menaiki bus dengan rute yang memutar karena tujuanku langsung kerumah ayah. Sebenarnya Ka’Bima menawarkan agar aku dijemput. Tapi, bodohnya, aku menolak. Karena ku pikir tak akan seburuk ini. Mukaku mungkin kacau dan kusam sesampainya di depan perumahan, dan deritaku belum kunjung usai.
Aku masih harus naik ojek kalau tidak mau capek berjalan kaki menuju blok F nomor 10. Sial!!!! Mengapa tak ada ojek???!! Biasanya banyak berjejer. Oh ayolah mengapa hari ini begitu buruk ? tak adakah yang bisa membantuku mengantarkan atau sekedar memberikan minuman?? Aku sudah sangat lelah.. aku haus, bisa bisa aku mati sebelum sampai rumah ayah.! Gerutuku yang keluar kini tak ku pendam dalam hati. Aku sudah cukup lemas untuk bergumam dalam hati. Tak ada pilihan lain, aku harus berjalan kaki.
Sejauh ini sudah 3 blok yang kulewati, tak buruk.. mungkin berat badanku akan menyusut setelah ini. adakan yang bisa ku eluhkan lagi saat ini? oh ya .. Hey tuan matahari .. kau memang sungguh sangat hebat, kuat dan tak kenal lelah, sampai-sampai membuatku ingin mati ditelan oleh mu. Ayolah! Sebaik itukah engkau Tuan … aku berbicara sendiri dengan kepala yang menengadah ke atas dan tubuh yang mungkin akan roboh bila tertiup angin. Beberapa anak kecil yang sedang bermain seperti membicarakan aku sambil menunjuk-nunjuk, ohg! Whatever!!! Teriakku mungkin. Keringat yang sedari tadi mengucur dari tubuhku seperti terhenti saat melihat papan bertuliskan Blok F. “Hoorayyy!!! Yes .. aku tau aku pasti berhasil!” tak mau membuang-buang waktu aku segera berlari ke arah rumah bernomor 10. Dan yah …. Aku sampai ….
“Ayah .. Ka’Bima … aku sampai!” teriakku sambil membuang tubuh ke sofa yang sungguh sangat nyaman. “Hey .. hey .. anak perempuan kok kucel begini? Abis maen bola dimana sih?” sahut ka’Bima sambil menggoyang-goyangkan kakiku yang panjang. “Huh .. sudahlah, jangan ceramahi dia dulu Bima. Biarkan adikmu beristirahat sebentar!” sanggah ayah. Oh ayah , I Love You!!! “Sekarang bangun dan cepat mandi. Kemudian pakai baju yang sudah ayah belikan yang ayah taruh di atas kasurmu itu.. ayo ayo .. cepat anak perempuan tidak boleh malas. Sebentar lagi kau akan bertemu dengan calon kakak iparmu. Masa kalah cantik sih anak ayah ini!” aku menegakan tubuh kaget “Hah?? Kakak ipar? Sejak kapan Ka’Bima laku dipasaran!?? Heheheh peace … ka, aku hanya bercanda..” senyumku padanya sambil bangun dan segera berlari ke kamarku.
***
Aku turun dengan dress berwarna coklat pudar selutut. Dengan malu-malu, aku merasa seperti tuan putri di kisah-kisah putri yang dulu sering dibacakan ibu untukku. “Waw.. boleh juga piliha ayah! Bajunya pas ditubuh Aii. Kau tampak manis Aii, ayolah berikan peluk mesra pada kakak yang sebentar lagi akan meninggalkan kalian ini!” “Ih! Tidak!, kau pikir aku anak kecil? Pergi? Pergi saja … ugh, ohya jangan menyebutku manis lagi!” bantahku dengan muka asem. “oh… Jadi kau sudah bukan anak kecil lagi?? Sudah besarkah anak ayah ini? coba bawa kemari pacarmu itu.” Goda ayah dengan senyum yang sangat di sukai ibu, tapi menurutku itu berlebihan. “Sudahlah ayah …. Jangan goda aku lagi!!” rengekan ku yang tak pantas untuk anak berumur 17 . “Hey ka. Kau kan baru berusia 21. Mengapa ingin cepat cepat menikah?” tanyaku pada sosok kakak yang terlihat sangat dewasa hari ini. Ia agak menundukan kepala saat menjawab pertanyaanku “karena aku mencintainya..” ia mengangkat kepalanya pada posisi awal. “Jadi kau tak mencintai aku dan ayah? Mengapa begitu cepat?” kali ini aku memasang wajah paling manis –menurutku—saat berbicara dengan ka’Bima. “Siapa bilang aku akan meninggalkanmu Aii? Aku tak akan melakukan itu, lagipula aku baru tunangan belum menikah dan memisahkan diri. Dan kau tau aku berencana akan tinggal disini dulu sebelum punya rumah sendiri, maukah kau tinggal bersama aku, calon kakak iparmu, dan ayah yang semakin tua ini?” ia tersenyum, mirip sekali dengan ayah, lalu ayah menyambung pembicaraan sebelum aku berhasil berkata-kata lagi. “Hmm.. menurutmu aku sudah tua Bima” suara ayah yang ramah sangat menentramkan jiwa saat ini. “yah begitulah ku rasa!” balas ka’Bima. “Hahahahhahaah … “ tawa yang menggelegar disetiap sudut rumah.
Kami tertawa sangat girang .. .. .entah mengapa aku sangat senang dengan hari ini, aku tak ingin pergi dan ingin tetap tinggal bersama mereka. Aku jadi memikirkan tawaran ka’Bima untuk tinggal bersama mereka selepas pernikahan ka’Bima yang mungkin baru terlaksana 2 atau 3 tahun lagi., lama memang. Tapi kakak dan ayahku ini memang sedikit tidak waras, ka’Bima ingin cepat bertunangan karena ia takut kehilangan kekasihnya ini.
Aku, ka’Bima, dan ayah , sedang duduk rapih di sofa dengan setelan resmi ala ka’Bima. Sembari bercerita tentang keseharianku yang sepi, aku menceritakan semuanya pada ayah. Ka’Bima juga bercerita tentang calon kakak iparku, yang katanya baik, cantik, ramah, cerdas… dan sebagainya. Ayah sedang repot dengan jamuan yang akan dihidangkan untuk calon menantunya saat ka’Bima menceritakan kapan mereka bertemu, bagaimana lika-liku perjalanan cinta mereka dan betapa ia mencintai kekasihnya yang sudah setia menemaninya 2 tahun terakhir ini. waw!! Manisnya…… aku jadi terharu mendengar kisah dan perjuangan ka’Bima untuk meminta pujaan hatinya dari orang tua sang perempuan. Tapi, sampai sekarang aku belum mengetahui siapa nama gadis cantik nan mempesona yang bisa memikat kakak ku yang sungguh sangat cuek ini.
***
Keluargaku memang aneh, karena umumnya pertunangan itu dilakukan dirumah sang perempuan, tapi …” ini permintaan pihak perempuan yang sudah disetujui kedua belah pihak.” Kata ka’Bima. Hal ini tak banyak berpengaruh pada aku dan kehidupanku, hanya saja. Mungkin untuk sebagian orang ini adalah hal terbodoh yang dilakukan keluarga yang beberapa jam lagi akan saling mengenal satu-sama lain.
Tak banyak yang hadir dari pihak keluarga aku atau mungkin lebih enak menyebutnya keluarga Ka’Bima –sang mempelai—hanya ada nenek, tante, om, dan beberapa sepupuku yang lain. Termasuk si kembar Rizal & Rezal. Mereka yang paling akrab sekaligus paling sering cekcok denganku. Aku senang mereka semua ada di sini, setidaknya untuk menghargai saja. Tidak seperti Ibuku. Dari kematian kakak perempuanku, sampai hari bahagia kakak pertama, ia tak kunjung datang. Aku tau bagaimana perasaan ka’Bima dengan keadaan tanpa Ibu seperti ini. aku pernah merasakannya, walau tak se serius ini. ka’Bima pernah berkata bahwa ia sangat mengharapkan kedatangan Ibu di hari bahagianya, tak harus datang untuk sungkem. Dengan mengetahui ibu datang saja ka’Bima bisa lompat lompat tujuh hari tujuh malam menurutku.
Ibu … tiba-tiba saja aku teringat dengannya. Orang yang sudah melahirkan aku dan kakak kakak ku, sekaligus orang yang sangat berjasa atas sakit hati keluargaku. Bagaimana keadaannya sekarang? Dimana dia tinggal? Apa dengan pria idaman lain, mengapa ia tak kunjung memberi kabar?. Aku tak terlalu membencinya sekarang ini, hanya sedikit rasa jengkel yang masih tersisa. Dia orang yang amat aku cintai, namun kini ia menjadi orang yang amat aku hindari. Aku lebih nyaman memanggilnya “wanita” itu sekarang!.
Hari sudah sore saat keluarga sang perempuan datang dengan ayu memasuki rumah. Kami semua berdiri kaget saat melihat si peempuan. Wahhhh . .. . cantiknya…. ! hanya itu yang ada di pikiranku tentang dia. “Cantik ya?” sahut Rizal yang lebih akrab ku panggil Ica. “Iah!” timpah kembarannya, Rezal atau Eca. “Ssssstttt…” sambungku, “Berisik sekali sih! Ini kan acara formal. Tidak baik membicarakan mempelai” tuturku panjang pada kedua anak kembar yang hanya beda satu tahun denganku, aku lebih tua. “ah! Kau ini” balas Ica. “kalianlah yang seharusnya diam.” Sambung Eca. Acara baru saja dimulai saat kami bertiga diam.
Semuanya terasa hikmat. Apalagi saat-saat ceramah, menurut sebagian besar orang tua yang ada di ruangan ini mungkin hikmat. Tapi tidak untuk aku dan sepupu-sepupu lain. Ini agak membosankan. Tapi aku tetap bahagia, karena akhirnya senyum manis dari kakakku bisa mengembang juga. Mereka saling berhadapan, membicarakan sesuatu yang aku sendiripun tidak tau apa. Aku memandangnya lekat. Sampai mereka sadar dan menertawakan aku. Ka’Bima terlihat sangat bahagia karena aku tau, hatinya pasti bergejolak saat melihat sebuah cincin cantik melingkar ditangan kekasihnya.
Ohya .. aku lupa .. nama kekasih kakakku itu adalah “Naya sukma ayu” .. wow! Namanya indah iah, seindah wajah dan kepribadiannya.
Aku belum terlalu mengenalnya, karena selama proses pendekatan ka’Naya pada keluargaku aku tak ada. Huftt --- inilah ruginya tinggal terpisah dengan ayah dan ka’Bima. Kadang aku memang menyesalai hal ini. hmmm .. mungkin bukan kadang, tapi sering. Aku memikirkan lagi tawaran ka’Bima untuk kembali tinggal dirumah ini. tapi. Bagaimana dengan rumah yang satu lagi??? Huuuuuuuuuuuuu … aku bingung!
Acara formal begitu cepat usai. Namun, tidak dengan bincang-bincang keluarga baru –dengan tambahan keluarga ka’Naya—semua berkumpul di ruang keluarga, duduk melantai. Aku hanya merasa kasihan pada Ka’Shena, diakan pakai kebaya, masa harus duduk bersimpuh lama-lama. Rasa kasihan ku tak beralasan lagi sekarang, karena setelah acara ka’Shena langsung ganti baju dengan dress panjang warna yang senada dengan punyaku, modelnya juga hampir sama tapi, bedanya dress ka’Shena lebih panjang sampai mata kaki.
“Lalu? Bagaimana perasaanmu Aii?” Tanya bibi padaku.. –sungguh pertanyaan yang mengagetkan— “Hmmm .. iah senang, aku senang kalau kakak senang.” Jawabku singkat, padat, dan jelas. “Hahahahaha … ayolah Aii, kenapa kau harus secanggung itu pada kita semua? Apa karena lama tak bertemu?” suara ka’Bima memecahkan tawa seantero ruangan. “Ugh! Tidak,.. mungkin aku capek.” Mukaku agak cemberut.
Perbincanganpun berlangsung hangat dengan keluarga yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.
***
“Harum semerbak bunga melati menyeruak ke dalam ruangan. Suasana khas pertunangan, yang ku rasa tak akan pernah tergantikan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar