Kamis, 08 April 2010

XV. BUKAN IBU, TAPI BUNDA ..

Adik-adik ku tercinta,
Maaf ya…., aku tak bisa datang senin ini. karena ada tugas sekolahku yang harus selesai besok.
Nanti akan ku usahakan datang hari rabu atau kamis. Oh ia, buku yang kemarin aku kirim sudah sampai kan? Aku sudah berusaha mendapatkannya lebih banyak, tapi hanya itu yang terkumpul dari sekolahku.
Bun Maya, kau sehat kan? Aku tak mau mendengarmu sakit. Karena bagaimana nasib adik-adik ku kalau kau sakit?? Hahahah … .. aku merindukanmu bunda ..rindu pada masakan lezat yang selalu kau sajikan kala aku datang berkunjung.
Aku titip mereka semua ya. Bunda…


Isi pesan yang ku kirim pada bunda maya. Untuknya dan seluruh adik-adik terkasihku.
Ku kirim pesan singkat itu pada sebuah kontak bertuliskan Bunda Maya. Rasanya baru aku mengirimkannya, sudah ada balasan dari sana.

Iia .. tidak apa kakak Aii .. Semoga tugasmu cepat selesai, oh iia .. jangan lupa kalau sudah selesai segera kesini ya ..
Hhmmm , adik-adikmu agak kecewa tapi, ya sudah tidak apa lah ..
Bunda baik sayang, semoga kau juga .. aku juga sangat sangat merindukanmu. Sepertinya sudah lama kau tak datang. Kau pasti sibuk.
Jangan lupa jaga kesehatanmu Aii ..

Dan begitu seterusnya, seperti anak dan ibunya yang sedang berada di tempat yang berbeda.

***


Adik-adik ku, mereka yang ku maksudkan bukanlah sesuatu yang baru dalam kehidupanku, begitu juga dengan Bunda Maya. Mereka adalah keluarga baruku. Keluarga yang selalu aku idam-idamkan.
Sudah 4 bulan terakhir ini, aku punya kesibukan baru. “Memberi kasih” itulah kesibukan baruku. “Memberi” apa yang orang lain tak punya, dan mendapatkan apa yang aku tak punya. Semua itu ku lakukan hanya untuk berbagi kasih dengan anak-anak panti. Mereka jauh lebih kuat dan hebat dibandingkan aku. Dengan bermodal barang-barang sederhana mereka bisa membuat apa yang mereka mau. Tempatnya tak jauh, hanya beberapa meter dari kompleks rumah ayah, yang sekarang aku tinggali semenjak pertunangan ka’Bima dan ka’Naya.

Aku baru sadar bahwa aku bukanlah satu-satunya manusia yang paling terpuruk oleh cinta. Melainkan masih banyak yang jauh lebih dari sekedar terpuruk.

Nama panti asuhannya, Kasih Bunda. Disanalah aku mulai belajar mengasihi dengan sederhana. Bukan dihitung dari materi atau yang lainnya. Melainkan dari kasih sayang dan kehadiran. Merekalah yang mengajarkan aku banyak hal tentang kehidupan yang jauh lebih keras, sesuatu yang sejak kecil tak pernah aku tahu. Umur mereka beragam, ada yang masih SD,SMP, bahkan seumuran dengan ku.
Semangat mereka yang membara yang membuat mereka tampil sebagai “Seseorang” dalam lingkungan mereka. Tak banyak yang aku bisa banggakan dari kehidupanku selama 17 tahun ini. Menurutku apa yang ku miliki bukan benar benar milik ku. Contohnya, Ibu dan ka’Alia. Mereka milik ku, namun bukan benar benar milik ku .. ..

Tapi, lain dengan seorang gadis berumur 14 tahun yang mengajarkan aku tentang ‘memiliki’ .
Namanya Tirania, dia seorang gadis yang paling tangguh yang pernah ku kenal. Tira mengajarkan aku banyak hal tentang kehidupan, termasuk ‘memiliki’. Ia bilang kita bisa memiliki kalau kita mau dimiliki. Dan saling memiliki itu, bukan bagaimana ia selalu hadir, melainkan bagaimana kita bisa mengasihi, berbagi, mencintai, memiliki satu sama lain.

Tira anak yang paling manis dan cerdas menurutku. Ia membuktikan bahwa kehidupan hanyalah wadah dimana kita berperan. Sebagain tokoh antagonis, protagonist, atau yang lainnya. Ini semua hanyalah sebuah sandiwara, kisah-kisah yang mengharukan, menggembirakan, menyenangkan, atau bahkan yang menyedihkan itu adalah kuasa Sang sutradara yang tak lain adalah Tuhan kita.
Kita ini seperti di kontrak untuk beberapa waktu dalam beberapa adegan perfilm-an. Kita tak pernah tau kapan pagelaran sandiwara ini akan berakhir.

Hmm .. cukup untuk Tirania ..

Satu lagi yang baru yang aku dapat dari sini. …..
Bunda .. Maya
Bukan ibu baru yang akan menikah dengan ayahku, tapi ibu panti, namanya Maya. Aku menyukainya. Menyukai cara bertuturnya, cara ia memanjakan semua anak di panti ini. Ia orang yang ramah, baik, sopan, pada siapapun termasuk orang baru. Aku dekat dengannya semenjak awal kedatanganku ke tempat itu. Tak banyak yang bisa aku ceritaka tentang bunda Maya.

Ia .. membuatku percaya bahwa seorang ibu tak pernah minum sebelum anaknya minum, tak pernah tertidur sebelum anaknya terlelap dalam malam. Bunda Maya belum menikah. Ia pernah bilang padaku bahwa ia lebih suka bebas berekspresi dengan anak-anak panti dari pada terikat dengan suami, namum tak menutup kemungkinan. Aku hanya bertanya-tanya, mengapa wanita mapan setara Bunda Maya belum juga punya pacar ???? apa ia yang terlalu pemilih. Atau memang tak ada yang tertarik padanya? Ah! Ku rasa itu tak masuk akal.

Apapun yang menyangkut Bunda Maya membuatku teringat akan Ibu. Ibu yang bukan tak pernah mengajari ku. Pernah … hanya saja sangat sedikit dan sebentar. Beda dengan bunda Maya .. ia lebih peka terhadap ‘anak’nya ..
Ku fikir itu wajar bagi seseorang yang memiliki cinta.

Bunda tau semua tentang aku. Ia bukan seorang peramal, akulah yang menceritakannya. Ia satu-satunya orang yang ku percayakan untuk menjaga rahasia kehidupan keluargaku.
Mulai dari kepergian ibu sampai surat yang ku temukan waktu itu. Yang ku heran.., bunda hanya tersenyum mendengar keluh kesahku, aku merasa tak di hargai atas tindakannya itu. Tapi belakangan ia bilang. “bukan tanpa alasan aku tersenyum, menurutku itu adalah garis kehidupanmu yang akan terus di kenang sampai masuk liang. Tak perlu sedih atau marah, hanya perlu keikhlasan hati. Bukan tak pernah aku mengalami hal yang seperti itu. Dulu , saat aku remaja, ibuku tertabrak mobil dan meninggal. Aku sedih tapi tak berkepanjangan, aku malah harus berusaha lebih keras untuk memberikan kasih sayang Ibu pada adik-adikku yang tergolong masih kecil.”

Dari sanalah aku tau … semua kunci kehidupan ada di tanganku ..

Yang aku tak habis fikir adalah,
Wajah bunda sangat mirip dengan ibu saat ia meninggalkan aku. cantik, cerdas, mapan, sederhana. Itulah yang tergambar disana. Mungkin saja semua itu hanya sebuah ‘kebetulan’ .

***

“Ibu, adalah ibu,
Seseorang yang berjasa melahirkan aku sekaligus menghancurkan aku.

Sementara …..

Bunda, adalah bunda
Seseorang yang berjasa memperbaiki ‘aku’ yang hancur karena ibu .

Terima kasih untuk ibu .. dan bunda …”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

All Content