“Aii ???” panggil Angga dengan suara lirihnya.
“Ya , kenapa? Ada apa?” sahutku serentak dengan bunyi air langit yang baru saja turun. “Apa kau suka hujan?” Tanya dia, sambil menatap langit gelap yang dipenuhi kilat. “Tidak juga .. hmmm , kadang aku suka tapi kadang tidak. Hujan itu basah. Tapi menyegarkan! Bagiku ..” sebelum aku melanjutkan kata-kataku Angga memotongnnya. “Apa yang kau fikirkan tentang air yang turun semerta-merta dari langit dalam waktu yang tidak di duga? Juga … apa pendapatmu tentang, bumi itu menangis kala hujan?”
Pertanyaan yang cukup panjang untuk ku jawab sekaligus.
Diam … tersenyum … memandang seseorang dengan pertanyaan yang ku rasa aneh.
“Aku tak memikirkan apa-apa tentang hal itu. Itu merupakan kejadian biasa bukan? Hujan bukan hal baru di dunia ini, Angga .. dan tentang bumi menangis .. jujur itu tak sama sekali masuk akal, hanya beberapa orang menganggap hal itu memang benar-benar terjadi. Tapi, bagiku.. menangis atau tidaknya bumi. Ia sudah sangat terluka. Hmm .. memangnya ada apa? Kau terlihat aneh hari ini.”
“Tidak. Aku hanya sedang memikirkan tentang hujan dan air mata.”
Percakapan yang cukup panjang antara aku dan Angga, yang hanya membahas tentang ‘hujan’
***
Apa yang aku fikirkan??
Mengapa selalu terbayang ‘Angga’???
Oh,,…. Ayolah Aii, kau tak harus menghawatirkan seseorang hanya karena ucapannya kan??
Tapi,
Sepertinya ada yang aneh dengannya akhir-akhir ini. Tapi, apa?? Aku juga tak tau .. ..Hmmm, ngomong ngomong tentang Angga. Ia itu kuat sekali ya? Ku fikir ia tak setangguh itu. Ternyata .. aku salah. Ia seperti hidup di dunia orang lain saat ini. Aku tak tau mengapa aku berfikir tentang hal tersebut. Hanya .. ia berbeda saat ini.
Masih dengan kursi rodanya, tapi, tidak dengan wajahnya. Raut-raut indah yang biasa ku lihat kini seperti menghilang. Ia seperti kehilangan cahaya mataharinya. Apa terjadi sesuatu iia ????
***
To : Angga
14.30
Maaf kalau aku terlalu mencampuri urusanmu ..
Tapi, bolehkan aku tau, mengapa kau terlihat aneh akhir-akhir ini?? Ini seperti bukan dirimu …
Ohya, Dian menyuruhmu segera menyelesaikan tugasmu, karena akan segera di kumpul.
From : Angga
15.00
Tidak, aku baik-baik saja.
Tak apa, kau tak terlalu mencampuri kok!
Soal tugas, punyaku belum selesai. Nanti ku antar sendiri ke ruang guru. Aii ,.. suruh Dian aktifkan hpnya .. susah sekali menghubunginya sekarang.
To : Angga
15.09
Huft …
Syukurlah. Ku fikir aku terlalu …………………… ya., kau tau.
Dian bilang hpnya rusak. Dia ada di rumahku sekarang.
Kau tak mau datang, mungkin sekedar ngobrol atau nonton. Dian bawa film baru.
Itupun kalau kau mau ……
From : Angga
15.17
Boleh juga, tapi tunggu sebentar..
Aku masih harus jemput adikku.
To : Angga
15.25
Kami tunggu!!! >_<
Jangan lama-lama iia …… =)
KLIK! Hp ku mati ….
***
“Hahahah ,… kau tau Aii. Dia ini sungguh sangat aneh.! Hey.. ayolah Boy .. kau tak harus tampil semenakutkan ini kan??” suara Dian memang mengelegarkan seluruh isi rumah.. “Jangan ganggu aku Dian…!” sahut seorang lelaki yang Dian bilang aneh itu, yang tak lain adalah Angga. “Jujur saja ya .. kau memang aneh akhir-akhir ini, Angga. Kau tak seperti dirimu yang biasanya.” Ungkapku, sambil mengambil gelas. “Wah! Angga! Apa yang telah kau berikan pada Aii?? Sampai ia bisa perhatian begini padamu … hebat.. hebat.. GoodJob Boy!” . “Tak ada .. aku hanya memberikan sedikit bumbu pemanis dalam senyumanku!” jawab Angga dengan senyumnya yang ‘terlalu’ menggoda. “Hahahahhahahah!” tawa mereka pecah, sementara aku terdiam dengan tampilan bodoh ala Haiira .. “Hey.. Hey .. apa-apaan sih?! Aku kan hanya mencoba menjadi teman yang baik” sahutku lagi. Kini dengan sedikit kedipan mata pada mereka berdua. “Ah! Aku lumpuh!!” Angga menyuarakan sesuatu yang ku fikir tak masuk akal. “hahahhaha!! Heh! Angga . .. kau ini payah sekali ya .. baru diberi sedikit kedipan dari tuan putri saja sudah lumpuh!” .. “uuuuu…” tambah ku ..
Lalu waktu berjalan di iringi dengan tawa kami bertiga..
Aku yakin, aku akan amat sangat merindukan saat-saat seperti ini ……
Ini dia yang sebenarnya, hidup dengan penuh keceriaan yang benar-benar ku inginkan. Dan .. ku rasa Angga akan segera kembali seperti biasa setelah hari ini..
“Aii.. ayo … cepat putar filmnya .. jangan bengong saja …” sahut Dian tak sabar. “ia ia ..”
Sore hari yang tak terlupakan untuk ku, dan mungkin untuk Dian dan Angga…
***
Awan tidak begitu indah hari ini … tapi, cukup untuk mengobati rasa bosan dalam diriku. Tak banyak yang bisa membuat aku tampak menyenangkan kecuali keluarga dan semua teman-temanku. Tak ada tangisan, kepedihan, tawa canda, kegembiraan, kebahagiaan. Semua itu tak ada sekarang. Mungkin seharusnya aku bersyukur atas semua nikmat itu, tapi entah mengapa dunia terasa hambar… seperti sayur tanpa garam …
Teringat awal pertemuan aku dan Dian. Semua berawal dari sesuatu yang mereka sebut ‘kebetulan’ tapi, jujur saja aku tak begitu percaya akan kebetulan, itu semua sudah takdir. Mengapa masih harus di katakan sebagai ‘kebetulan’??
Aku bertemu dengannya di bilik OSPEK, yang tidak sama sekali menyenangkan untuk ku. Dian duduk disampingku. Ia tampak hebat dengan gayanya yang natural tapi, manis.. aku mengaguminya kala itu. Ia seorang yang tak pernah lupa untuk tersenyum. Entah sampai kapan ia akan tersenyum seperti itu …..
Ia menyapaku sambil menyodorkan tangannya dengan kuku yang di cat kemerahan. Tak dipungkiri aku agak … .. kau tau, curiga. Dari dulu tak pernah ada orang yang bersikap begitu manis kepadaku. Sejak saat itulah aku mulai membuka diriku pada Dian, karena Dian tak pernah menutupi apa pun dari ku.
Setelah mengenalnya, aku mulai mengerti bagaimana orang lain melihatku sebagai ‘Aii’ yang sebenarnya. Mereka menatapku dengan sangat hati-hati karena aku tak membuka diri pada mereka. Itu yang Dian ajarkan pertama untukku.
Yang kedua, TERSENYUMLAH! .. aku tak pernah benar-benar ‘tersenyum’ semenjak Ibu pergi meninggalkan aku. Semuanya serasa diserap oleh kepergian Ibu. Tapi, lain lagi dengan Dian. Ia bilang sesuatu yang disebut dengan Tersenyum bukanlah mengandalkan senyum kita yang dulu, tapi bagaimana kita mengandalkan senyum kita yang baru.
Dan yang ketiga.. keempat… kelima… dan seterusnya sudah tak terhitung lagi.
Dian banyak mengajariku, sesuatu yang aku tak tau. Dan membuatku mengerti apa yang aku tak mengerti.
Thanks Dian ----- <3 ------
***
“Inilah kita … bersama dengan kisah penuh makna …
Yang tak kan pernah terlupa ……”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar