Semua itu berjalan cepat .. sungguh sangat cepat .,
Seiring dengan itu, kehidupanku mulai kacau balau .. terutama keluargaku.
Ka’alia .. ia menjelma menjadi monster remaja yang gila akan kehidupan bebas .. entah sejak kapan ia begitu, aku pun tidak begitu tau .. karena semenjak aku masuk SMP, perilaku Ka’Alia mulai berubah terhadapku, ia seperti membenci dan ingin aku segera mati di haddapannya.
Aku baru mengetahui dan mewajari semuanya,, saat Ka’Bima menceritakan semua hal yang belum aku ketahui. Ternyata semenjak ibu meninggalkan kami semua , ka’Alia dan ayah mulai membenciku. Ka’Bima bilang karena aku adalah anak yang paling mirip dengan ibu. Mereka bilang makin aku besar aku makin menyerupai wajah dan perilaku ibu, .. ENTAHLAH .. .!! semirip aapapun aku dengan ibu, itu bukan keinginanku !! !!
Begitu juga dengan ayah .. ayahku berubah menjadi orang yang paling –entahlah—yang aku kenal di dunia ini. Ayah sering pulang larut , bahkan kadang tidak pulang .. aku tak pernah tau apa yang ia lakukan di luar sana. .. . . “Mungkin mencari ibu baru!!” cetuss ka’Alia suatu malam saat kami bertiga sedang menunggu ayah pulang ..
Memang begitulah keadaan rumah ku . tempat itu tak layak lagi disebut “Rumah” entahlah, apapun sebutan yang pantas untuk tempat ini, pastilah jauh lebih buruk dari “Kandang” !!! mungkin agak kasar kedengarannya , tapi begitulah keadaannya.
Kami semua sibuk dengan urusan kami masing-masing,.
Ayah dengan pekerjaannya, berangkat dini hari, pulang larut malam atau kadang tak pulang sampai besoknya.
Ka’Bima sibuk dengan urusan dan sekolahnya, rutinitasnya seperti anak lelaki remaja pada umumnya, ia bertingkah seakan semua keadaan buruk itu tak pernah ada atau bahkan ia bertingkah seakan tingal di kos, dan tak kenal siapapun. Ka’Bima lebih banyak diam.
Yang ketiga Ka’Alia .. entahlah .. aku bahkan tak melihatnya saat bangun dan pulang sekolah .,, aku tak begitu tau tentang kehidupannya, melihat isi kamarnya saja aku tak pernah.
Dan yang terakhir adalah aku .. aku menjalani rutinitas sekolah dan bermain .. atau hanya sekedar dikamar mendengarkan lagu dan membaca.
Aku tak menyangka, bahwa semua itu berubah begitu cepat. Teringat masa masa indah bersama ibu dulu. Sangat menyenangkan! Aku tak tau siapa yang bisa ku anggap keluarga di tempat –rumah—itu aku hanya berfikir, jika mereka tak menganggapku keluarga mengapa aku harus melakukan mereka layaknya keluarga??. Itu hanya akan menguras energyku yang sudah banyak terbuang untuk persoalan ibu.
“Aku hanyalah manusia dengan hati yang terluka. Tak pernah merasakan apa yang setiap orang rasakan. Tak ada cinta, tak ada rasa, tak ada sayang .. hanya derita yang tersisa”
Kata kata yang terlontarkan hatiku memang benar. Aku tak pernah merasakan kasih sayang yang sebenarnya, bahkan saat aku tumbuh menjadi gadis --yang orang bilang—manis. Semua hanya khayalanku semata. Maka tak salah kalau aku tumbuh menjadi batu karang yang tertutupi lumut tebal. Karena dari dulu aku tak pernah diajarkan untuk membuka diri pada siapapun. Tak ada yang mengajariku bagaimana bersikap sebagaimana gadis seumuranku pada wajarnya. Aku sedih!
Namun, tak bisa lagi mengeluh atau hanya sekedar merintih. Aku hanya bisa menangis dengan hati yang terisis.
Aku ingin teriak tapi, mulutku justru bercakap. Aku ingin berlari, tapi kaki ku justru berjalan. Aku ingin merintih, tapi hatiku malah menangis. Heran rasanya aku dengan diriku sendiri, yang sepertinya dikendalikan sesuatu.
Dan aku tau apa itu. RASA… rasalah yang menuntunku melakukan semua ini. Bercakap dengan orang –orang yang menyakitiku dengan lembut atau bahkan tak bersuara. Berjalan dari kegelapan malam yang mungkin akan membunuhku bila aku tak bergegas pergi. Menangis dalam hati yang sesungguhnya sudah sangat terluka dan sebentar lagi akan patah.
***
“Ibu – apa kau pernah berfikir sebelum bertindak?? Karena inilah hasilnya, aku ..
tidak tidak.. bukan Cuma aku, tapi semua anggota keluargaku yang tersisa. Kami terluka akan apa tindakanmu! Apa kau pernah memikirkan ini?? sadarilah!! Bahwa kami membutuhkan orang yang benar-benar menyayangi kami setulus jiwa, bukan sekedar buaian semata!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar